Kita ketahui, dalam sejarahnya angklung tradisional bersifat ritmis,
bertangga nada salendro, jumlah angklung terbatas serta kehadirannya
dalam konteks upacara dan hiburan. Namun dalam perkembangannya,
angklung oleh Pak Daeng dikembangkan ke sistem kromatik 12 nada
berdasarkan well tempered scale, jumlah diperbanyak, dimainkan secara
melodis, menghadirkan lagu-lagu dengan gramatik musik Barat (Tonal).
Lagu-Iagu yang sudah ada diaransemen kedalam estetika tonal dan
cenderung difungsikan ke pertunjukkan musik yang memiliki nilai
"hiburan atau kerajinan" semata, dengan kata lain kemunculannya
"mereduksikan budaya musik Barat". Dengan demikian kemunculan angklung
Padaeng lebih cenderung memainkan karya-karya (secara persepsi) tidak
mewakili Budaya Jawa Barat (Hal semacam ini perlu dipermasalahkan
secara kritis).
Suatu kenyataan, kehadiran angklung Padaeng tidak hanya diterima
"masyarakat luas", di dunia pcndidikan pun telah dijadikan media
pendidikan dan diperkuat dengan dimunculkannya SK. 082/1963 oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini dapat dimaklumi dan patut
kita hargai. Karena dilihat dari sisi lain dan situasi kondisi
tertentu, suatu ketika angklung Padaeng dapat dijadikan media
pendidikan.
Namun yang perlu diingat, bahwa angklung tradisionalpun bila dilihat
dari keutuhan kontekstual sebagai sebuah jenis seni dimasyarakat jauh
lebih "Indonesiawi”, karena dengan berbagai keunikan dan keanekaragaman
musiknya akan lebih mengena bila dijadikan media pendidikan, sehingga
lebih mengakarkan budaya Jawa Barat. Dalam konteks ini penulis pernah
diingatkan:
“Perkembangan suatu bangsa yang mengabaikan kebudayaan akan melemahkan
sendi-sendi kehidupan bangsa itu sendiri. Pembangunan yang tidak
berakar pada nilai fundamental budaya bangsanya akan berakibat pada
ilangnya kepribadian dan jati diri bangsa yang bersangkutan. Bangsa
yang demikian pada gilirannya akan runtuh, baik disebabkan kuatnya
tekanan pengaruh dari luar maupun oleh pengeroposan dari dalam tubuhnya
sendiri” (Kompas Tgl. 13 Juni 1993). Walaupun diantara para ahli, kesan
demikian seolah-olah tidak terlalu dirisaukan, namun setidaknya bahwa
kesan demikian dapat dijadikan peringatan bagi kita.
Angklung (untuk kepentingan musik Barat) dengan berbagai
keterbatasannya, tidak semua lagu-lagu selalu bisa ditransfer atau
diaransemen ke dalam angklung (baik dari segi bunyi maupun estetika).
Sering dijumpai lagu-lagu baik dari estetika maupun tekstur melodinya
tidak mungkin diaransemen ke alat musik angklung namun hal itu
dilakukan, sehingga karya yang dihasilkan terkesan sangat dipaksakan.
Namun sebaliknya, apabila kita mampu memfungsikan atau mengeksplorasi
kelebihan dan keunikan yang terdapat pada angklung, akan menjadi karya
sangat menarik dan memiliki nilai "seni".
Keterbatasan yang terdapat pada angklung (untuk kepentingan musik Barat dimaksud adalah:
- Wilayah nada terbatas
- Tidak bisa dimainkan untuk kepentingan legato, ornamen (grupeto, apjiakatura, tril, morden, dsb.)
- Sulit untuk mebunyikan not yang memiliki hitungan kecil dalam tempo tertentu.
Oleh sebab itu, dalam teknik mengaransemen atau mentransfer lagu-lagu
atau komposisi ke dalam angklung, berbagai aspek harus menjadi
pertimbangan, antara lain sistem nada atau gramatik yang akan kita
gunakan, apakah pentatonis, sistem tonal atau sistem lainnya.
Berdasarkan kenyataan, bahwa angklung Padaeng sering dimainkan atau
membawakan lagu-lagu dengan gramatika musik Barat "tonal'" (melodi dan
akor saja), Aspek-aspek musikal, maupun gaya jarang diperhatikan, Baik
dari aspek tonalitas dan perubahannya, relasi-relasi nada baik secara
vertikal maupun horizontal dan lain sebagainya, oleh sebab itu ada
beberapa usulan secara garis besar yang menjadi persyaratan mutlak
untuk seorang komposer maupun aranger agar secara sadar mengusai
Gramatika Musik Barat dalam hal ini Sistem tonal dengan berbagai
fenomena perkembangannya (termasuk landasan prinsip dan gejala musik
Modal) baik secara auditif, praktis maupun teori yang kesemuanya
mengarah kepada pengalaman (usaha kreatif).
Salah satu landasan untuk dapat mengaransemen adalah penguasaan ilmu
harmnoni tonal, Pengetahuan harmoni menggambarkan "arsitektur"
nada-nada yang berbunyi secara vertikal.
Selain itu, jenis-jenis akor dan posisinya dalam jaringan tonalitas
yang hirarkis dijelaskan pula. Landasan untuk pemahaman demikian adalah:
- Pengetahuan fenomena akustik
- Pengalaman praktek musik yang seolah-olah menimbulkan pengenalan
sesuatu yang diulangi, yang muncul lebih sering daripada yang lain pada
semua literatur musik.”
Sementara kenyataan yang terjadi pada lagu-lagu untuk angklung, harmoni
diolah untuk kepentingan secara vertikal saja, padahal "pengetahuan
harmoni tidak membahas vertikal saja, melainkan meliputi kelanjutan
horizontal juga, karena tidak ada satu peristiwapun dalam rangka musik
yang vertikal saja. Artinya, pengetahuan harmoni seolah-olah
aturan-aturan horisontal selalu menyertai pelajaran vertikal, baik
secara teoritis maupun praktis” (Mack, Dieter, Pengarahan Harmoni
Tonal, 1994),
Untuk dapat membuat arasemen atau komposisi musik dalam estetika Tonal ada beberapa unsur yang harus dipahami yaitu:
1. Landasan perkembangan sistem tonal
2. Penguasaan Tonalitas Mayor dan Minor
3. Trinada dengan berbagai balikan, kedudukan, baik untuk tingkat maupun fungsinya dalam tonalitas mayor dan minor
4. Nada disonan yang khas:
- Dominan dengan septim
- Subdominan dengan sekt yang ditambah
5. Akor Septim Skunder
6. Nada-nada yang tidak termasuk harmoni (not bantu, antisipasi, not lintas, suspensi, appojiatura, not samping yang meloncat)
7. Jenis-jenis kadens
8. Berbagai aturan dasar tentang penyusunan harmoni
9. Dominan sementara
Unsur-unsur lanjutan
1. Modulasi:
- modulasi diatonis
-
modulasi kromatis
- modulasi enharmonis
- modulasi nepolitan
2. Kontrapung: (Modal dan Barok)
3. Kemampuan Analisis Musik
Penjelasan di atas walaupun dalam istilah dikategorikan Teori Musik,
namun dalam proses pembelajaran selalu bertitik tolak dari pemahaman
dan pengalaman musik, sehingga pengalaman tersebut bertujuan untuk
memahami musik dan untuk proses menggarap karya musik yang bermutu.
Bandung, 13 Nopember 1999
Only AWI Member can write comments.
Please login or register.