|
 |
| |
| Saturday, 04 September 2010 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 17 guests online |
|
AWI Members |
 | 1220 registered |
 | 0 today |  | 2 this week |  | 98 this month |  | Last: amarh | |
|
AWI WebStat |
Members: 1222
News: 704
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
MUSIK ANGKLUNG: DULU, KINI DAN NANTI (Pikiran Rakyat, 24 Oktober 1996) |
|
|
|
Written by DRS. YAN RASPATI
|
|
Thursday, 11 August 2005 |
1. Angklung dan Dinamikanya
Jika mendengar kata “Angklung”, maka yang terbayang dalam benak kita
adalah alunan musik yang berasal dari bambu yang memainkan lagu-lagu
yang teramat sederhana, tradisional, dan mungkin berkesan konvensional.
Fenomena ini sama sekali tidak dapat dipersalahkan mengingat bahwa
hingga saat ini lagu-lagu angklung tradisional tetap dipertahankan,
karena walau bagaimana pun “akar” dari musik angklung adalah musik
daerah tersebut.
Musik angklung pun tidak mengenal adanya segmentasi. Golongan apapun,
dan usia berapapaun tanpa kecuali, dapat memainkannya karena dibuat
secara sederhana dan dapat dimainkan dengan mudah. Jika memperhatikan
akan hal-hal tersebut, sangatlah disayangkan jika angklung ini tidak
mendapatkan perhatian yang layak, serta tidak mendapatkan tempat
sebagaimana mestinya. Apalagi kita semua mengetahui bahwa Angklung
sudah dikenal di dunia internasional.
2. Indentifikasi Masalah
Dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang,
tentu saja tidak mungkin terlepas dari situasi dan kondisi yang tengah
terjadi pada saat ini.
Dari berbagai kelebihan yang ada, penulis berpendapat bahwa Angklung
sedikitnya memiliki berbagai kelemahan yang dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
- Belum adanya wadah / forum komunikasi yang secara
rutin dapat mempertemukan grup angklung yang ada pada saat ini (kecuali
ajang Festival atau Konser ?). Sehingga, “belum ada” kesamaan persepsi
mengenai standardissai teknik, kualitas, aransemen, dan lain sebagainya.
- Belum ada standardisasi untuk manajemen
organisasi Angklung. Di satu pihak ada tim dengan penataan organisasi
yang sudah menjurus ke arah profesional - dengan struktur
organisasi serta dukungan dana yang baik - sementara di lain pihak ada
grup yang sengaja dibentuk secara “dadakan” dan pembentukannya hanya
karena akan diikutsertakan dalam ajang Festival saja (bukan merupakan
kegiatan rutin dan organisasi formal.) Dengan kata lain, belum ada satu
pemahaman bahwa angklung pun perlu ada penataan manajemen secara
sistematis.
- Belum ada standardisasi honorarium yang layak
bagi seorang pelatih dan grup angklung secara utuh (dalam arti, sejauh
mana para “aktor” angklung dapat diukur / dihargai secara materi yang
medai.)
Jika masalah-masalah tersebut tidak segera ditangani secara dini, maka
di masa yang akan datang, grup-grup angklung yang ada akan sulit
berkembang bersama, atau mungkin hanya akan berkembang secara
individual saja, bahkan mungkin banyak grup yang akan gulung tikar.
Pembenahan kondisi internal memang harus sesegera mungkin diantisipasi,
mengingat bahwa bukan tidak mungkin akar permasalahan yang biasa
muncul, berawal dari sini.
3. Analisis/Perspektif, dan SaranSebenarnya, grup angklung yang ada pada saat ini sudah cukup marak.
Tidak hanya di tingkat sekolah saja (TK sampai dengan SLTA), tetapi
juga sudah merambah ke tingkat Perguruan Tinggi. Namun demikian, karena
tersebar di berbagai daerah, sehingga perkembangan yang terjadi di kota
Bandung belum tentu dapat diikuti oleh daerah-daerah lain di luar kota
Bandung. Kendalanya adalah sulitnya pengawasan dan informasi, sehingga
kerap terjadi kesalahan persepsi (meskipun sifatnya sangat mendasar.)
Selanjutnya adalah, faktor kesempatan untuk menguji kemampuan. Bukan
tidak mungkin pula, kelak kesempatan untuk tampil pada acara-acara
terhormat hanya akan didapat oleh grup yang sudah memiliki reputasi dan
sudah mapan saja. Sedangkan, grup lainnya akan sulit untuk mendapat
kesempatan serupa (kecuali jika berbentuk Pementasan Angklung Massal.)
Dengan demikian, kesempatan untuk mengasah kemampuan bagi grup-grup
lainnya akan sangat minim, dan akhirnya terjadi pula kesenjangan
kualitas. Disadari atau tidak, hal ini sudah mulai terjadi. Benar,
bahwa ada festival Angklung yang diadakan secara rutin. Namun follow up
dari festival itu masih belum transparan jika pada akhirnya tetap saja
memunculkan kelompok kepentingan tertentu untuk ditampilkan pada
event-event penting. Kontribusinya perlu lebih dipertegas lagi. Musik
angklung memang tidak akan pernah tenggelam, namun jika yang tetap
bertahan hanya gruo-grup tertentu saja, apakah kondisi ini juga tidak
kalah mengkhawatirkan ?
Kemudian, dukungan dari berbagai pihak akan sangat kita butuhkan untuk
memperlancar langkah dalam mencapai tujuan. Akan lebih baik lagi jika
bantuan itu datangnya dari media cetak maupun media elektronik yang
bersedia menayangkan secara reguler dan berotasi, tanpa mengurangi segi
komersialnya. Sebab, media ini sangat ampuh untuk menyentuh segala
lapisan masyarakat, sehingga perkembangan angklung pun dapat langsung
dirasakan oleh semua pihak. Lalu, yang tidak kalah pentingnya adalah
upaya pendekatan terhadap pihak-pihak yang memiliki otoritas. Hal ini
seyogyanya dapat dilakukan secara aktif karena akan melicinkan segala
sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya. Jika kita hanya bersikap
“menunggu bola” saja, maka eksesnya hanya kan merugikan kita saja.
Memang, usaha-usaha ke arah itu selalu dilakukan oleh para sesepuh
angklung. Namun, untuk menunjang kontinuitas program, siapa yang kelak
yang akan terus mengusahakannya?
Selanjutnya, jika kelak dibentuk organisasi resmi yang merupakan
gabungan dari berbagai grup angklung yang ada, maka kesenjangan
kualitas dan kesalahan persepsi itu diharapkan akan dapat dikurangi. Di
samping itu, bukan tidak mungkin jika setiap permasalahan akan dapat
dipecahkan secara bersama-sama. Termasuk juga nantinya masalah alokasi
dana dan manajemen organisasi yang biasanya menjadi penghambat utama
kemajuan angklung di setiap sekolah. Kalaupun nantinya masalah dana
tetap menjadi kendala utama, minimal organisasi ini bisa menjadi
mediator antara grup yang bermasalah dengan pihak-pihak yang terkait.
Organisasi yang dibentuk ini pun diharapkan tidak hanya aktif ketika
awal dibentuknya saja, namun juga harus terjaga konsistensinya secara
berkesinambungan, tidak terjadi missing link, dan semua krgiatannya
harus terprogram dengan teratur sehingga tidak terjadi overlapping
ataupun mismanagement. Para pengelolanya harus merupakan
orang-orang yang memiliki loyalitas tinggi dan komitmen yang besar
terhadap kemajuan organisasi. Sehingga, manfaat dari organisasi ini
dapat dirasakan maksimal oleh seluruh anggotanya tanpa kecuali. Jika
perlu, dijadikan sebuah Yayasan tersendiri agar dapat lebih kuat dan
mengikat secara hukum.
Memajukan musik Angklung tidak semudah menjual karcis sepakbola atau
pertunjukan musik barat, karena penggemarnya teratas dan tingkat
apresiasi masyarakat terhadap angklung pun belum terllau
menggembirakan. Terlalu banyak kendala yang harus dihadapi. Jika
pengelolanya tidak memiliki kapasitas sebagai seorang “idealis” yang
baik, maka jangan harap bahwa angklung akan terus berkembang.
4. Kesimpulan
Eksistensi musik angklung di masa yang akan datang, akan sangat
bergantung pada kesungguhan kita dalam mengelolanya dengan penuh
perhatian dan kejujuran, tanpa adanya hipokrasi serta maksud-maksud
untuk membela kepentingan kelompok tertentu, atau hal-hal yang mengarah
pada primordialisme. Dalam berbaagai hal, terbukti bahwa jika ada
kelompok kepentingan yang bendominasi suatu perkumpulan, maka bisa jadi
bumerang bagi perkumpulan tersebut. Sebab, kesalahan sedikit saja akan
dapat memperbesar masalah yang telah ada, dan mungkin akan semakin
menghambat kemajuan musik angklung ini. Jika sudah demikian adanya,
maka segala idealisme yang muncul selama ini hanya akan sia-sia belaka.
Harian Pikiran Rakyat Bandung, 24 Oktober 1996
Penulis adalah Pemerhati Masalah Angklung dan Pernah Melatih pada Corps Angklung SMAN 5 Bandung.
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
| |