Pernah suatu saat seorang asing yang telah mengunjungi berbagai tempat
di negara kita ini berkata bahwa bangsa Indonesia itu merupakan bangsa
yang aneh; karena mereka membangun rumah mereka dari bambu, dimulai
dari lantai, dinding, atap, tiang juga peralatan dapur dan kebutuhan
sehari-hari semua dari bambu, bahkan makanan pun, mereka makan bambu
pula, dimana di negara kita terkenal dengan rebung.
Bahkan di dalam merebut, membela dan mempertahankan negara dari tangan
penjajah "bambu" tidak sedikit berperan andil (bambu runcing) dan malah
sampai waktu meninggal pun bambu berperan penting (usungan jenazah).
Hal lain yang menarik, bahwa Indonesia pun pandai membuat alat musik
sendiri terbuat dari bambu (suling, calung, gunsang, celempung,
rengkong, Angklung, hateng dan lain sebagainya.)
MASA LALU MUSIK BAMBU
Sejak kapan timbulnya alat musik yang dibuat dari bambu di Indonesia,
tidak terdapat keterangan yang jelas. Beberapa ahli, seperti J. Kunst
(Mr. J dan C.J. A Kunst "Musical Exploration in the Indian Archipelago"
dalam Asiatic Review, Oktober 1936, hal. 814 dan Will G. Gilbert Muziek
uit Oost-en West, Inleiding tot de Inhemsche Muziek van Nederlandsch
Oost-en West India, (tidak bertahun hal. 9-10) berpendapat, bahwa
beberapa bentuk alat musik bambu berasal dari masa sebelum adanya
pengaruh Hindu. Menurut dugaan mereka, permulaan berkembangnya alat
musik dari bambu di Indonesia sangat erat hubungannya dengan
perpindahan penduduk dari daratan Asia yang kemudian menjadi nenek
moyang suku-suku Melayu Polinesia, beberapa Melanium sebelum Masehi.
Dari bukti-bukti yang dapat dikumpulkan, dengan terdapatnya beberapa
alat musik dari bambu yang sama bentuknya di Asia Tenggara, dugaan
tersebut dapat diterima. Sebagai contoh, alat musik bambu berdawai yang
di Sulawesi Selatan disebut Gandrangbulo, di Priangan dikenal dengan
sebutan Celempung, di Jawa Tengah disebut Gumbeng atau Gumbeng Rebah,
di Bali dinamai Guntang.
Alat seperti itu, dengan berbagai variasinya antara lain terdapat di
Siam Utara (Hugo A. Bertzik, Die Gaister der Gelben Blutter 1938, hal.
174); di Laos (A. Schaeffoer, Origine des Instrumente de Musque, 1938
hal XII, gambar 2 dan 3 (masing-masing berdawai 2 dan 1); di Kamboja
dikenal dengan sebutan Dianglye (Curt Sachs, Die Musikinstrumente
Indiens und Indonesiens, 1915 Hal. 97). Di beberapa tempat di Malaysia
biasa disebut Gendang Batak (Henry Balfour, Musical Instruments from
Malay Peninsula, Antropology, part 11, 1954 hal. 17); Orang-orang Sakai
menyebutnya Krob, orang Semang menyebutnya Amang (M. Kelsinki, "Die
Musik der Primitiv Stamme auf Malaka" Anthrops, XXV, 1930 hal. 591).
Demikian pula di berbagai daerah di Indonesia, dengan berbagai variasi
bentuk dan penamaan terdapat alat musik dari bambu berdawai. Bahkan di
Madagaskar, menurut Sachs, (Curt Sachs, Les Instrumente de Musique de
Madagascar, 1938, hal. 51) alat seperti itu terdapat pula, dikenal
dengan sebutan veliha, vediha (na) atau marovany.
Dengan adanya persamaan bentuk alat musik dari bambu sebagaimana
dikemukakan di atas, yang dapat dikatakan salah satu ciri persamaan
selera dari suatu kebudayaan yang sama pendukungnya, maka dapat ditarik
kesimpulan, bahwa berkembangnya musik bambu di Indonesia erat kaitannya
dengan perpindahan nenek moyangnya dari darata Asia. Perpindahan yang
dimaksud mungkin sekali perpindahan gelombang pertama, yakni
perpindahan suku Negrito Weda yang terjadi pada zaman Mesolitikum,
bahkan tidak mustahil sebelumnya. Sebagaimana dimaklumi sebelum adanya
perpindahan suku bangsa Palaeo Mongoloid di Nusantara sudah ada
suku-suku bangsa yang menetap yang juga berasal dari daratan Asia yang
kini sisasisanya antara lain adalah penduduk asli Irian (M. Amir
Sutarga, "Tjiri-tjiri Antropologi Fisik dari Penduduk Pribumi" dalam
buku: Penduduk Irian Barat, di bawah redaksi Koentjara-ningrat dan
Harsja W. Bachtiar, 1963, hal 22-23).
Penduduk Irian ternyata memiliki berbagai alat musik dari bambu, antara
lain yang bentuknya dikenal di Pasundan dengan sebutan Kerinding, di
Jawa Tengah dan Jawa Timur disebut rindhing atau Genggong, dan di Bali
disebut Ginggung. Alat seperti itu dapat ditemui di berbagai tempat di
Irian, seperti di sekitar Jabi, Tarung Gare, Awembiak, Den Dama, di
sekitar Gunung Jaya Wijaya dan di hulu sungai Apauwar. Periksalah lebih
lanjut: L.M. d'Alberts, New Guenia, jilid I, hal. 359; W.N. Beaver, A
description of the Ciraca District, Western Papua, jilid III, 1914 hal
407; R. Parkinson, Im Bismarck-Archipel, Erlehnisse und Beobachtungen
auf der Insel NeuBommern, 1887 hal 122; Curt Sachs, Geist und Werden
der Musikinstrumente, 1929, jilid III, gambar No. 59; G.A.J Van der
Sande, Uitkomsten de Nederlandsche Nieuw Guenia Expeditie onder leiding
van Prof. A. Wichman, jilid III; ch. Le Roux, "Expeditie naar het
Nassaugebergie in Cental Noord Nieuw guinea", TBG LXVI, hal 447513,
1926; Dr. J. Kunst, A Study on Papuan Music, peta lampiran
"Distribution of Musical Instruments in New Guinea and the Adjacent
Islands, 1931.
Dengan dikenalnya alat musik dari bambu oleh penduduk pedalaman Irian
Jaya yang dapat dikatakan sebagai monumen kebudayaan zaman Batu Tua,
dapatlah kiranya diterima pendapat, bahwa alat musik dari bambu di
Indonesia sudah berkembang sejak zaman itu. Jadi tidak seperti pendapat
Will Gilbert, yang menyebutkan berkembangnya musik bambu di Indonesia
sejalan dengan perpindahan penduduk dari daratan Asia .... eerste
millenium v. Christ (Will G. Gilbert, op.cit, hal 20) atau seribut
tahun sebelum Masehi, melainkan jauh sebelum itu, mungkin antara 10.000
sampai 5.000 tahun sebelum perhitungan tahun Saka. Pada zaman itu
kebudayaan setingkat dengan orang Tasadi, suatu suku terasing di
pedalaman Mindanau (Filipina) yang belum mengenal logam dan cocok tanam
dan masih hidup di goa-goa.
Orang Tasadi juga mengenal alat musik bambu, yakni alat musik bambu
berdawai yang mereka namai Kubing. Sebagaimana dimaklumi, suku Tasadi
ini baru ditemukan dan terjadi kontak dengan orang luar lingkungan
mereka pada tahun 1971.
Alat-alat musik dari bambu yang tampak pada relief Candi Borobudur dan
candi-candi yang lain, dari bentuk dan jenisnya menunjukkan adanya
pengaruh Hindu, seperti Bangsing (suling lintang, wangsi).
Sedang alat-alat yang sudah ada sebelumnya, seperti alat musik bambu
berdawai dan sebagainya, tidak digambarkan. Gambang bambu seperti yang
digambarkan pada relief Borobudur dan teras depan Prambanan, sampai
sekarang masih merupakan alat musik sakral di kalangan penganut agama
Hindu Bali. Di beberapa Pura tua, seperti di Pura Kelaci Denpasar,
terdapat gambang demikian yang kelihatan sudah sangat tua. Alat itu
biasa dipergunakan dalam upacaraupacara penting terutama dalam
pengabenan.
Sebagai makhluk yang berakal, bagaimanapun juga sederhananya, dalam
mencukupi hajat kebutuhannya, nenek moyang bangsa Indonesia sejak zaman
purba telah memanfaatkan bahan yang mudah didapat dan dibuat alat,
yaitu bambu.
Perubahan bentuk dan peningkatan mutu alat-alat musik dari bambu tampak
sangat lamban, bahkan ada yang sama sekali tidak mengalami perubahan.
Di beberapa daerah dewasa ini masih terdapat alat musik dari bambu yang
hanya berupa ruasan bambu yang dibunyikan dengan cara
ditumbuk-tumbukkan pada sebuah papan, seperti Garantang di Tohpati
Kasiman, Bali. Ada pula yang ditabuhnya dengan dipukul dengan pemukul
dari kayu, seperti Guyonbulon di Banjaran, Bandung Selatan. Tongtong
atau kentongan bambu tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di
daerah Sumenep, Madura, Tuk-tuk biasa digunakan sebagai bunyi-bunyian
pengiring karapan Sapi, dilengkapi dengan Sronen, semacam terompet yang
tabungnya dibuat dari bambu pula. Tennong di Pangkajene, Sulawesi,
adalah sebuah alat musik bambu sederhana pula, berbentuk bilahan bambu
sebanyak 4 buah, dijajarkan di atas paha pemainnya. Dalam hal ini paha
berfungsi sebagai penyangga dan sekaligus menjadi resonator.
Menurut keterangan dari orang-orang tua setempat, Tennong biasa
dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu rakyat Pangkajene Kepulauan.
Di sekitar Cakung, Jakarta Timur, alat musik semacam Tennong, tetapi
dilengkapi dengan penyangga dari gedebog pisang disebut Sampyong, biasa
digunakan sebagai Ujungan atau Tari Uncul.
Alat musik dari bambu yang mengalami perkembangan yang wajar adalah
suling. Hampir setiap suku bangsa di Indonesia mengenal dan memiliki
suling dengan berbagai bentuk dan jenis, serta fungsi. Contohnya di
Pasundan terdapat semacam suling yang disebut Surilit, Taleot, Hatong,
Hatong Renteng, Hatong Sekaran, Elet, Calintu dan Bangsing.
Di antara berbagai macam suling terdapat pula yang digunakan sebagai
alat musik yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan setempat,
seperti suling Lembang, di Tanah Toraja. Suling dapat membawakan
lagu-lagu sedih yang menyayat hati, atau lagu-lagu riang yang
menggembirakan pendengarnya. Dapat pula dibawakan lagu-lagu syahdu
berjiwa keagamaan. Itulah mungkin antara lain sebabnya di Maluku suling
diperkembangkan sebagai alat musik Gerejani. Di Ambon dan Lease
nyanyi-nyanyian Jemaat Gereja biasa diiringi Orkes Suling, yang
dibawakan oleh sejumlah pemuda.
Menurut pendapat Dr. Th. Muller Kruger, bila dibandingkan dengan
iringan orgel-orgel kecil yang dipakai oleh kebanyakan jemaat-jemaat di
Indonesia, orkes suling bambu jauh lebih baik dan bermanfaat.
Alat-alatnya mudah dibuat sendiri dari bahan yang banyak terdapat di
Indonesia. Sedang orgel harus dibeli dengan harga yang mahal dari luar
negeri. Taraf musiknyapun orkes suling bambu tidak kurang indahnya dari
orgel.
Manfaatnya untuk kehidupan gerejani banyak pula, sebab dengan
digunakannya orkes suling bambu para pemuda mendapat tugas dan tanggung
jawab dalam kebaktian-kebaktian. Orkes suling bambu di Maluku
dikembangkan oleh Jozef Kam, seorang domine yang di sana dikenal dengan
sebutan "Rasul Maluku" yang melakukan pekabaran Injil di Indonesia
bagian Timur sejak tahun 1816 (Dr. Th. Muller Kruger, Sejarah Gereja di
Indonesia, 1966 hal 95).
Rupanya di Filipina suling bambu sebagai alat musik Gerejani pernah
ditingkatkan lagi bentuknya, yakni disusun sebagai organ. Sebuah pragan
bambu yang dibuat tahun 1819 di bawah pengawasan seorang Rahib Agustin
diberitakan pada tahun 1973 dalam keadaan rusak berat, sehingga untuk
perbaikannya diperlukan dana sebesar 64.000 dollar Amerika (Harian Umum
Berita Buana, 13 Juni 1973 hal 4). Hal ini saya kemukakan sekedar
memberikan gambaran betapa besar apresiasi masyarakat tetangga kita itu
terhadap alat musik bambu yang telah dikembangkan.
Alat musik bambu lainnya yang mengalami berbagai pasang surut dalam
perkembangannya adalah Angklung, sebagaimana akan kita tinjau bersama.
PASANG SURUT ANGKLUNG
1. Data Tertulis peninggalan Masa lalu
Sejak kapan Angklung muncul dan berkembang, merupakan pertanyaan yang
saya tidak dapat menjawabnya dengan pasti. Menurut perkiraan Dr.
Groneman, sebelum berkembangnya pengaruh Hindu di Indonesia Angklung
sudah merupakan alat musik yang digemari penduduk (Dr. Groneman, "De
Gamelan to Jogjakarta, Letterkundige Vehaldingen der Koninkl, Akademi,
Jilid XIX, hal 4). Sebagai alat musik pra Hindu, Angklung tidak
digambarkan pada candi Borobudur dan Prambanan, sebagaimana halnya
seperti alat musik bambu lainnya yang sudah berkembang sebelum zaman
Hindu di Indonesia, misalnya alat musik bambu berdawai.
Dalam literatur kuno pun saya tidak atau belum menemukan. Kekawin
Arjunawiwaha yang diperkirakan ditulis sekitar tahun 1040 hanya
menyebut-nyebut Sundari (semacam erofon yang di Jawa Barat dikenal
dengan sebutan Sondari, di Bali Sundaren). Calung yang dewasa ini
terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah, disebut-sebut dalam Inskripsi
Buwahan yang diperkirakan dibuat sekitar tahun 1181.
Guntang, alat musik bambu berdawai yang penyebarannya meliputi Asia
Tenggara sampai Madagaskar, dan sampai sekarang di Bali tetap disebut
Guntang, terdapat dalam Kekawin Kidung Sunda yang diperkirakan ditulis
tidak lama setelah tahun 1357. Alat yang di Priangan disebut
Pancurendang, di Jawa Tengah disebut Bluntak, dan di Bali disebut
Taluktak, disebut-sebut dalam Kekawin Bharata Yuda. Tongtong atau
kentongan bambu disebut-sebut dalam Sundharmala dengan Pulkul, dalam
Smaradhana disebut Titiran, dan dalam Bharata Yudha disebut Kukulan.
Baru dalam tulisan-tulisan kemudian seperti dalam Serat Cebolang,
Angklung disebut-sebut, yaitu waktu melukiskan saat Mas Cebolang
mempertunjukkan keahliannya menyanyi dan bermain musik di depan Bupati
Dhaha Kediri.
2. Fungsi Angklung Tradisi
Angklung yang dibunyikan dengan cara digoyang-goyangkan, adalah
termasuk golongan lonceng. Seperti lonceng, Angklung bersifat khidmat
serta biasa digunakan dalam hubungan kegiatan ritual. De beberapa
tempat di Bali Angklung biasa digunakan khususu dalam upacara
Pengabenan (pembakaran mayat). Namun dewasa ini hal itu terbatas pada
kelompok penduduk yang tidak memiliki Angklung metalopon, seperti
penduduk Banjar Tegalingah, Karangasem.
Orang Baduy di Kanekes, Banten Selatan, mempergunakan Angklung sebagai
alat musik upacara pada waktu menjelang menanam padi di ladang,
sebutannya Angklung Buhun.
Angklung Gubrag di kampung Jati, Serang, dianggap alat musik sakral,
untuk mengiringi mantera pengobatan orang sakit atau menolak wabah.
Seperti halnya di Kanekes, di sekitar Kulon Progo terdapat Angklung
yang digunakan dalam upacara Bersih Desa, permulaan musim menggarap
sawah, disebut Angklung Krumpyung. Demikian pula di desa Ringin Anom
dan Karangpatian, Ponorogo, upacara Bersih Desa biasa diiringi Orkes
Angklung.
Pada umumnya dewasa ini di berbagai tempat, Angklung merupakan alat
kesenian yang profan, seperti halnya di Madura. Di pulau itu, sepanjang
pengetahuan saya Angklung hanya terdapat di Desa Keles, Kecamatan
Ambuten, dan di Desa Bluto, Kecamatan Srunggi, keduanya termasuk
wilayah Kabupaten Sumenep, biasa digunakan untuk memeriahkan
arak-arakan.
Menurut keterangan, dahulu di beberapa tempat di Kalimantan Barat
terdapat Angklung, yang contohnya tersimpan dalam Museum Indisch
Institut di Negeri Belanda, tercatat dalam katalogus No. 1297/1-2 dan
1767/1-3. Akan tetapi dewasa ini menurut beberapa tokoh kebudayaan dan
pejabat-pejabat Kanwil Depdikbud Kalimantan Barat, di wilayah itu tidak
terdapat lagi Angklung tradisional.
Di Kalimantan Selatan sekarang masih terdapat Angklung tradisional yang
dikenal dengan sebutan Kurung-kurung, biasanya digunakan untuk
mengiringi pertunjukkan Kuda Gepang (Sie) yang bentuk dan cara
pertunjukannya hampir sama dengan Kuda Kepang di Jawa Tengah. Menurut
keterangan, kata gepang di sini berarti gepeng atau pipih. Jadi
berlainan dengan arti anyaman, walaupun bentuk dan kuda-kudaannya sama,
yaitu terbuat dari anyaman bambu.
Di Lampung pada masa-masa yang lalu terdapat pula Angklung tradisional,
yang contohnya dipamerkan di Museum Leiden, Negeri Belanda dengan
katalogus No 40/58. Namun sekarang sulit untuk mendapatkan keterangan
mengenai Angklung tradisional di wilayah tersebut, kecuali yang
dikembangkan oleh beberapa kelompok transmigran dari Jawa.
3. Perubahan Sifat dan Fungsi
Sebagaimana telah dikemukakan, hampir tidak ada keterangan tertulis
autohtonis dari Angklung pada masa dahulu. Yang terdapat hanyalah
cerita-cerita lisan, sebagaimana terdapat dalam beberapa cerita rakyat
di Kanekes, Banten Selatan yang biasa dibawakan dalam bentuk pantun.
Menurut cerita di sana, pada masa kebesaran Pajajaran, kerajaan di
Pasundan, di samping sebagai alat musik upacara pertanian, Angklung
biasa digunakan sebagai alat musik angkatan bersenjata, semacam
Marching Band.
Melihat cara-cara permainan Angklung di Banten Selatan dan beberapa
tempat di Priangan, demikian pula peranannya dalam pertunjukan Reog
Ponorogo dan permainan Kuda Kepang, kemungkinan dipergunakannya
Angklung sebagai alat musik tidak mustahil.
Hal itu dinyatakan oleh beberapa pengamat Belanda, antara lain seorang
dengan initial G.J.N. dalam majalah INDIE tahun pertama, No 21, 22
Agustus 1917 hal 330, tentang Angklung di Priangan, dengan tegas
mengatakan : "En qeen wonder: de angkloeng is militaire muziek" ("dan
tidak mengherankan:Angklung memang musik militer").
Demikian seorang dengan nama samaran "Bianca" dalam majalah de ORIENT
No.52, 24 Desember 1938, tentang Angklung Sunda antara lain menulis :
Over het algemeen draagt angkloeng muziek een opwekkend en vroolijk
karakter, maar het heeft ook zijn krijgslystige en mystiekezijde ("pada
umumnya musik Angklung menggairahkan dan menggembirakan, tetapi juga
dapat menimbulkan semangat perjuangan dan mistik").
Penulis lain yang anonim dalam majalah WOLANDA HINDIA tahun ke-12 No.6,
1939, setelah menyaksikan beberapa pertunjukan Angklung di Priangan,
antara lain menulis: "Dat deze muziek indruk op de bevolking maakt, is
bewezen. Zij beluisteren in de klanken krijgsmuziek, tewijl daartegen
over bij anderen zinnelijke aandoeningen worden opwekt" ("Bahwa musik
ini (maksudnya musik Angklung, pen) dapat menimbulkan kesan mendalam
bagi pendidik, cukup terbukti. Mereka mendengan musik perang dalam
bunyinya, sedang bagi yang lain menimbulkan emosional").
Demikian pengaruh musik Angklung pada pendukungnya di Priangan pada
masa lalu. Maka tidak mengherankan bila pada peretengahan abad XIX,
ketika di Pasundan sedang giat-giatnya dilaksanakan apa yang disebut
"Cultuurstelsel" atau peraturan tanam paksa oleh pemerintah Hindia
Belanda diadakan larangan terhadap permainan Angklung.
Alasan larangan itu, karena menurut pengamatan beberapa pembesar
Belanda Kolonial, permainan Angklung berpengaruh terhadap semangat
perlawanan rakyat atas kekuasaan pemerintah jajahan. Dalam larangan itu
dikecualikan permainan Angklung oleh anak-anak dan pengemis, mungkin
karena dianggap tidak menimbulkan keresahan dan tidak membahayakan bagi
ketentraman pemerintahan jajahan Belanda. Sejak itulah Angklung turun
derajatnya dari alat musik militer dan alat musik upcara yang dianggap
sakral menjadi alat musik yang biasa digunakan oleh pengemis untuk
mencari nafkah sepanjang jalan dari belas kasihan orang.
Setelah larangan itu dicabut, yaitu sejak dihapuskannya sistem tanam
paksa, Angklung tidak banyak lagi pengaruhnya bagi penduduk, kecuali
sebagai alat musik dalam berbagai pertunjukan rakyat seperti reog atau
ogel.
Keadaan nasib Angklung di Priangan yang demikian itu berlangsung hampir
satu abad. Baru menjelang masa penjajahan Jepang terjadi perubahan,
sebagai hasil kreativitas dan usaha tidak kenal mundur dari Daeng
Sutigna, seorang Guru di Kuningan, kelahiran Garut.
Pada masa gerakan kebangsan di kalangan bangsa Indonesia makin
menggelora, Angklung yang sekian lamanya ikut menjadi korban penjajahan
asing, mulai terjaga kembali.
Sejak tahun 1938 Daeng Sutigna dengan tekun mengadakan
eksperimen-eksperimen agar Angklung yang diketahuinya sebagai salah
satu unsur seni budaya bangsanya dan merupakan warisan yang pantas
dipupuk dan dikembangkan, mendapat tempat yang layak di kalangan
masyarakat luas. Setelah lama dipelajari dari berbagai segi, Pak Daeng
sampai pada kesimpulan, bahwa agar Angklung dapat cepat populer harus
disesuaikan dengan selera generasi muda, yaitu diubah tangga nadanya
dari pentatonis menjadi diatonis. Setelah mengalami berbagai hambatan
dan kegagalan, akhirnya usaha inovator itu berhasil dengan memuaskan.
Angklung kembali mendapat tempat yang layak di masyarakat. Bahkan
mendapat reputasi internasional, sebagaimana terbukti dari pernyataan
seorang musikus besar Australia IGOR HMEL NITSKY pada tahun 1955,
sebagai berikut :
"It is with pride and admiration that take this opprtunity of palcing
on paper my surprise delight that Daeng Soetigna has found such a
practical and fascinating method of teaching the youth of Indonesia how
to apreciate and play their own historic inestrument, the Angklung.is
original idea of enabling young children to read and understand the
tonal structure by visual and practical demonstration, is, to say the
least, wonderful.
This extraordinarily talented young teacher has also found a way in
which to use is national idiom to bring European music to the people of
his country. The great value in giving the players the rate combination
of pleasure and discipline -i/e/ good teamwork which would give a
unique satisfaction both to performers and audience.
I doubt whether Australia is the ideal place in which he should study
further, and feel that his development would be best nurtured by study
and research in European countries, and I sincerely hope that he will
have the opportunity of so doing, and thus be in the position to
further enrich his countrymen in this practical, educational, cultural
and national interest".
Dengan kreasi Pak Daeng itu ternyata kemudian, bahwa Angklung dapat
dijadikan sarana pendidikan untuk mempertebal jiwa gotong royong,
kerjasama, disiplin, kecermatan, ketangkasan, tanggungjawab dan
sebagainya, di samping pemupukan rasa musikalis.
Berdasarkan hal-hal itulah, meskipun menurut anggapan beberapa pihak,
Angklung sebagai alat musik memiliki beberapa kekurangan, akan tetapi
dapat dipertanggungjawabkan sebagai alat pendidikan, sehingga
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memandang perlu untuk
menetapkannya sebagai alat penidikan musik di sekolah, Daeng dengan
Surat Keputusan tertanggal 23 Agustus 1963, No. 082/1968 Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan telah memutuskan : ( SK Terlampir )
- Menetapkan Angklung sebagai alat pendidikan musik dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan;
- Menugaskan Direktur Jendral Kebudayaan untuk mengusahakan agar
Angklung dapat ditetapkan sebagai alat pendidikan musik tidak hanya
dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Demikianlah, Angklung seolah-olah melambangkan pasang surutnya sejarah
bangsa Indonesia. Ketika bangsa Indonesia berada dalam telapak kaki
penjajah, Angklung hanya menjadi alat musik pengemis. Dengan dicapainya
kemerdekaan, kembali Angklung menjadi alat musik yang dapat dibanggakan.
4. Perkembangan Pasca Daeng
Kegiatan pak Daeng dalam mengembangkan Angklung tidak terbatas pada
pengembangan mutunya, melainkan juga pengembangan dalam arti
penyebarluasan. Dibinanya Daeng-Daeng Muda sehingga tersebar di
berbagai daerah, sebagai generasi penerus. Pada dasawarsa tujuh puluhan
tampak dengan jelas betapa Angklung mencapai puncak kejayaannya.
Apresiasi terhadapnya tidak terbatas di lingkungan tanah air saja,
melainkan jauh lebih meluas ke negara tetangga. Dari sebuah produsen
Angklung saja ratusan set diekspor ke Malaysia setiap tahun, sebagai
salah satu komoditi nonmigas.
Menginjak dasawarsa delapanpuluhan, menurut pengamatan saya, tampaknya
perkembangan Angklung tidak sehebat dasawarsa sebelumnya, seolah-olah
terjadi kemandegan.
Mudah-mudahan konstatasi saya itu meleset, tetapi kalau benar, timbul
beberapa pertanyaan, apa yang menjadi sebabnya. Tidak mustahil
diakibatkan oleh masa produksi, sehingga kurang terjaga, karena
mengejar kuantitas. Atau mungkin juga disebabkan karena para Daeng muda
terlalu cepat berpuas diri dengan apa yang telah dicapai. Namun
bagaimanapun juga yang menjadi sebabnya, satu hal yang perlu saya
sampaikan dengan segala kerendahan hati, tetapi dengan penuh
kesungguhan, mudah-mudahan kreativitas aktivitas inovatif dan agresif
Pak Daeng Sutigna dalam mengembangkan mengembangkan tidak ikut terkubur
bersama almarhum.
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar.
Silahkan login atau daftar.