|
 |
| |
| Thursday, 20 November 2008 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 29 guests online and 1 member online |
|
AWI Members |
 | 710 registered |
 | 1 today |  | 3 this week |  | 61 this month |  | Last: endra | |
|
AWI WebStat |
Members: 711
News: 616
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG PADAENG |
|
|
|
Written by HANDIMAN DIRATMASASMITA
|
|
Thursday, 11 August 2005 |
|
Pada Seminar Seni Angklung se-Jawa Barat yang diselenggarakan oleh
Keluarga Paduan Angklung Institut Teknologi Bandung tanggal 26 Oktober
1989, saya sangat tertarik dengan makalah Bapak Prof. Dr. Mochtar
Kusumaatmadja, SH, LLM yang berjudul "Angklung Sebagai Salah Satu
Identitas Budaya Nasional". Angklung yang dimaksud Bapak Mochtar,
adalah Angklung Padaeng (angklung berlaras nada diatonis).
Bapak Daeng Sutigna pada tahun 1938 adalah guru SR di Kota Kuningan
Jawa Barat. Pada waktu itu beliau tertarik dengan angklung yang biasa
dimainkan oleh peminta-minta. Bapak Daeng Soetigna mencari orang yang
dapat membuat angklung yang dicarinya. Bapak Daeng Soetigna belajar
bagaimana cara membuat angklung, dan setelah memahaminya, dicobanya
sendiri sekaligus menginovasi susunan tangga nadanya, dari laras
Salendro (pentatonis) menjadi Laras Diatonis. Seperangkat angklung
diatonis hasil karya Bapak Daeng Soetigna dicoba dimainkan anak didik
beliau sendiri, yaitu anggota Pandu (Pramuka).
Hasilnya, sungguh menggembirakan! Anak didik beliau senang dan
meminatinya. Demikian pula teman sejawat serta pimpinan tempat Bapak
Daeng Soetigna bertugas. Dengan modal keberhasilan ini, Bapak Daeng
Soetigna tidak mengenal lelah terus-menerus mencurahkan perhatiannya
kepada angklung.
Sejalan dengan berkembangnya kemampuan berolah musik, maka jenis dan jumlah angklung pun bertambah, seperti :
• angklung melodi, ada melodi kecil dan melodi besar,
• angklung akompanyemen, akomp. mayor septim dan minor,
• angklung ko-akompanyemen.
Dengan penggabungan angklung dengan alat-alat musik Barat/Eropa seperti
kontra bas, cello, cymbal, dll, maka angklung Padaeng ini mampu
membawakan lagu-lagu dari berbagai daerah, lagu-lagu nasional, pop,
kroncong, lagu-lagu barat baik klasik maupun pop.
Grup angklung Bapak Daeng Soetigna untuk pertama kali dipentaskan di
panggung terhormat pada waktu ada kunjungan Perdana Menteri India,
yaitu Yang Mulya Pandit Javaharlal Nehru pada tahun 1950. Mulai saat
itu Padaeng selalu hadir mengisi acara malam kesenian untuk para tamu
Presiden. Saya sendiri mulai pentas di Istana Negara pada tahun 1960.
Kembali kepada gagasan Bapak Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, beliau
menjadikan angklung sebagai media diplomasi kebudayaan dengan
bangsa-bangsa lain:
• hampir disetiap perwakilan negara kita di luar
negeri disediakan angklung untuk dimainkan oleh staf KBRI beserta
keluarganya.
• Pada HUT Konperensi Asia-Afrika yang ke-30 tahun
1985 para delegasi yang menghadiri selain dapat menyaksikan permainan
angklung yang dipertunjukan oleh para pelajar dan mahasiswa Kota
Bandung yang berjumlah 1.000 orang, pada malam harinya para delegasi
diajak bermain dalam acara "How to play angklung". Kedua acara tersebut
sangat menarik para tamu, dan pada acara tersebut para delegasi dapat
membawa angklungnya sebagai kenang-kenangan.
• Masih dalam tahun 1985, Departemen Luar Negeri
Republik Indonesia mengirimkan Bapak Udjo dari Saung angklung Padasuka
Bandung ke Kepulauan Solomon dan Negara di Pasifik Selatan untuk
mengajarkan bermain angklung sekaligus memberikan pelajaran cara
membuat serta memberikan petunjuk cara memelihara angklung.
• Pada tahun 1970 hubungan Kebudayaan Departemen Luar
Negeri RI, mengirimkan saya ke kerajaan Iran untuk memenuhi permintaan
Madame Deba. Selama 6 bulan saya mengajar angklung di sekolah khusus di
Istana Niavaran tempat Putra Mahkota beserta putra-putri pembesar
kerajaan sekolah.
• Tahun 1975 Ratu Febiola dari Belgia belajar pula
bermain angklung di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brusel.
(Kompas, 26 Juli 1975)
Keberadaan angklung Padaeng yang diilustrasikan di atas menambah
pengetahuan kita, bahwa anngklung Padaeng sudah dapat diterima dan
diminati serta dinikmati khalayak termasuk kalangan luar negeri.
angklung Padaeng hadir di sekolah (lembaga pendidikan) sesuai dengan
Keputusan Mendikbud RI No. 082/1968 tentang Penetapan Angklung sebagai
Alat Pendidikan Musik; juga angklung disajikan sebagai seni pentas.
Oleh sebab itu permintaan angklung dari berbagai daerah di Indonesia
dan dari negera-negara lain semakin meningkat. Keberhasilan (Bapak
Daeng Soetigna) ini menimbulkan permasalahan bagi kita :
1. Mampukah kita melayani permintaan angklung Padaeng dari berbagai daerah dan berbagai negara?
2. Cukupkah bahan baku/bambu untuk membuat angklung yang semakin banyak peminatnya itu?
3. Adakah di antara kita yang turut memikirkan penyediaan bahan bakunya?
4. Karena adanya perbedaan musim dan temperatur di
berbagai daerah dan negara, apakah angklung yang dikirim dari negara
kita itu tidak menimbulkan masalah?
5. Dengan tumbuh dan berkembanganya perajin angklung,
apakah mutu atau kualitas standar dapat dipertahankan? Atau adakah
badan yang dapat menentukan standar kualitas angklung?
Saya ingin mengutarakan pengalaman saya selama berkecimpung dalam
kegiatan angklung dalam kurun 30 tahun. Pada tahun 1972 saya mendapat
pesanan dari negara tetangga, Malaysia, 2.000 unit angklung. Kalau
dihitung jumlahnya 2000 x 95 buah angklung = 190.000 buah angklung.
Nilai jual pada waktu itu seluruhnya Rp 110.000.000,00. Untuk ukuran
perajin, uang sejumlah itu sungguh sangat besar. Hadirin kiranya dapat
menebak akan tawaran itu.
1. MEMBUAT ANGKLUNG MEMERLUKAN PROSES PANJANG.
A. MEMILIH BAMBU BAHAN ANGKLUNG.
Sebagaimana kita ketahui di negara kita banyak dijumlai bambu. Menurut
jenisnya yang terdapat di Indonesia ada 16 jenis (Anang Sumarna "BAMBU"
hal 64).
Adapun bambu bahan angklung yang dipakai adalah jenis:
1) Bambu Temen/Awi temen (Sunda)
• Awi Temen HItam,
• Awi temen Putih (hijau).
2) Bambu Wulung (Awi Wulung/Sunda) Bambu Hitam,
3) Bambu Lengka,
4) Bambu Tali. (untuk bahan tabung nada)
Untuk bahan rangka (ancak) angklung dipergunakan :
1) Bambu Surat/Awi Surat (Sunda)
2) Bambu Gombong,
3) Bambu Tali.
B. WAKTU MENEBANG BAMBU.
Penebangan bambu untuk bahan angklung biasa dilakukan pada bulan Juli - Okotober. Di Indonesia sedang musim kemarau.
Bambu kemudian disimpan di gudang tempat penyimpanan bambu sampai
kering, + 1 tahun. Jadi keringnya bambu tidak dikarenakan dijemur.
Untuk mendapatkan angklung yang "bersuara merdu" bambu yang
dipilih/ditebang adalah bambu yang berusia + 3 tahun.
C. PROSES PENGERJAAN/PEMBUATAN ANGKLUNG.
• Setelah bambu kering dengan proses "diangin-angin",
dipilih menurut ukuran peruntukan angklung. Kemudian dipotong, lalu
dibentuk.
• Disimpan beberapa hari/minggu di rak khusus.
• Kemudian bambu yang sudah dibentuk angklung (tabung nadanya) mulai disetem mendekati nada yang diinginkan.
• Sesudah itu tabung nada dipasang pada ancaknya. Disimpan atau digantung untuk beberapa hari/minggu.
• Baru kemudian disetem lagi uyntuk kemudian diikat. Sebelum dikirim ketempat tujuan disetem kembali.
2. BAMBU SEBAGAI BAHAN BAKU ANGKLUNG.
Di Indonesia tumbuh berbagi jenis bambu. Bambu yang selama ini
dipergunakan untuk membuat angklung baru didapatkan empat jenis bambu.
Untuk memperoleh bambu bahan angklung, selama ini kami harus mencari
dan memilih dari satu tempat ke tempat lain. Kadang-kadang terjadi
berebut dengan keperluan untuk patok/pancang-pancang peng-urugan rawa,
penyangga pembuatan bangunan atau jembatan, dsb. Dan yang sangat
menyakitkan hati perajin angklung ialah rumpun bambu ditebang habis,
lahannya diperuntukan pabrik, kebun cengkih, dsb.
Kami hanya berangan-angan adanya kebun bambu, seperti perkebunan tebu,
perkebunan kopi atau cengkih. Atau hutan bambu angklung seperti hutan
cemara.
3. PERUBAHAN TEMPERATUR DAN PERBEDAAN MUSIM SUATU DAERAH BERPENGARUH KEPADA BAMBU.
Seperti pernah teralami sewaktu melatih angklung di Kerajaan Iran. Saya
membawa dua unit angklung Padaeng, satu unit untuk Sekolah Kerajaan dan
yang satu unit lagi untuk KBRI di Teheran. Tidak lupa membawa bambu
cadangan. Berkunjung ke Iran di bulan Juni (1970) di saat musim panas.
Panasnya temperatur/suhu udara pada waktu itu mencapai 42 derajat
Celsius. Tabung nada angklung banyak yang pecah dari sekat ruasnya/pada
bukunya. Dari kejadian ini saya memperoleh pelajaran, tentang jenis
atau macamnya bambu yang tahan di udara panas dan kering, dan upaya apa
yang harus dilakukan untuk "menyelamatkan " angklung. Namun penelitian
secara ilmiah perlu diadakan.
4. MUTU/KUALITAS DAN STANDAR NADA ANGKLUNG SEBAGAI ALAT PENDIDIKAN MUSIK.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
082/1968 tentang Penetapan Angklung sebagai Alat Pendidikan Musik,
sudah barang tentu adanya konsekuensi serta tanggung jawab tentang
kualitas nada-nada angklung, baik dari standar nada yang berllaku
maupun kemurnian nada yang ditimbulkan oleh suara angklung.
Angklung sebagai alat pendidikan musik, bahkan angklung hadir di atas
pentas kesenian, selain dituntut kualitas nada (suara) juga segi-segi
lainnya, seperti :
• kualitas bahan baku angklung,
• segi bentuk/postur angklung yang enak dipandang,
• kerapihan dalam pengerjaan,
• tahan lama, tidak mudah rusak.
Untuk menjamin mutu/kualitas angklung, kiranya perlu dipikirkan adanya
badan yang menetapkan "Kualitas Angklung untuk berbagai
keperluan/kebutuhan"; mana (yang bagaimana) angklung untuk keperluan
luar negeri, untuk dikirim ke daerah yang berhawa panas, kering,
lembab, dsb.
Dengan tumbuh dan berkembanganya para perajin angklung kiranya perlu
pula adanya badan yang memberikan bimbingan dan sekaligus mengadakan
pengawasan, agar kualitas angklung dapat terjamin.
HANDIMAN DIRATMASASMITA
Perajin Angklung Padaeng
Jalan Surapati No. 140/144 c
B a n d u n g
|
Tentang Pak Handiman & Pengrajin Angklun Written by memberbaru on 2006-11-07 18:03:17 Info yang kami ketahui bahwa Pak Handiman adalah salah satu tokoh musik angklung yang berdedikasi dalam pengembangannya, dengan melakukan sharing kepada sekolah-sekolah untuk pembuatan dan perawatan angklung. Tampaknya ke depan masyarakat angklung akan kesulitan dalam hal pengrajin mengingat ahli pengrajin angklung semakin sedikit, sehingga perlu diadakan workshop & kaderisasi pengrajin angklung. |
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|