“Singkatnya, Si Etjle sudah menjadi “Juragan Kandidat”. Pertama
diangkat di Sekolah Schakel Cianjur. Ia kerasan juga tinggal di
Cianjur, karena ada Kang Olim dan si Loho (Taslim dan Suwardi, keduanya
teman sekelas).
Di Cianjur hanya 2 tahun, terus pindah ke Kuningan, tukar dengan Kang
Wandi. Di Kuningan si Etjle ditakdirkan ... mendapat jodoh, menikah
pada tahun 1938.
Selanjutnya menetap di Kuningan, sampai lahirnya negara merdeka. Pada
zaman negara Pasundan, ia ditarik ke Bandung, bekerja di Jawatan
Kebudayaan Kementrian Kang Oesman1).. Setelah itu pindah lagi ke
Jakarta, “dibawa” oleh Pak Soemardja (Sekjen Kang Oesman, yang waktu
itu diangkat menjadi kepala Dinas Kebudayaan di Kementrian RIS.
Ketika Negara Kesatuan lahir, Pak Soemardja kembali lagi ke Bandung,
menjadi profesor di ITB. Si Etjle dikembalikan ke Bandung, dijadikan
Dosen Seni Suara (di bawah pimpinan Vastenhouw) di Balai Pendidikan
Guru, serta diangkat sebagai penilik, sekolah kepala (golongan V/b).”
(Si Etjle, Carita Daeng Soetigna dina reuni Rindusaba tanggal 22 April
1973 di Lembang).
Tidak banyak yang kita ketahui tentang masa kerja Daeng di Cianjur. Di
sana ia hanya sebentar kemudian pindah ke Kuningan. Di Kuningan ia
cukup lama tinggal dan bekerja. Di kota ini ia tidak saja memperoleh
jodoh, kawin dengan Nyi Raden Masyuti (lahir Kamis 15 Desember 1919)
pada tanggal 16 November 1938, tetapi juga masa pengenalan kembali dan
mempopulerkan angklung.
Sampai tahun 1942, Daeng menjadi guru HIS dan antara 1942-1949 ia
menjadi kepala SD di Kuningan. Sewaktu di HIS, kegiatannya di dalam
kelas ialah mengajar menyanyi dan olah raga (gymnastik) untuk semua
kelas. Dari kelas IV ke atas ia mengajar menggambar, bahkan pernah
mengajar ilmu bumi dan ilmu alam. Di luar kelas ia mendirikan dan
membina kepanduan (padvinder) serta melatih para pandu memainkan
angklung dan band harmonika. Di rumahnya ia melatih Band Mandoline. Ia
juga melatih turnen (standen, ringan, palang sejajar, kuda-kuda lompat)
sore hari di sekolah karena peralatan olah raga pada saat itu sudah
lengkap. Pada setiap hari Sabtu malam ia berkemah dengan pandu-pandu
asuhannya. Biasanya ia mendatangi perkemahan pada pukul 23.00 sampai
pukul 02.00. Murid-murid sangat karena ia jarang marah; ia dekat sekali
dengan anak-anak terutama yang aktif dalam olah raga dan kesenian. Di
dalam kelas, kalau ia sudah melihat anak-anak mulai ngantuk dan letih,
ia suka bermain sulap dengan menggunakan bola pingpong, sapu tangan,
atau seutas tali. Permainan sulap lainnya biasanya dipertunjukkan pada
malam Kesenia jika ada kenaikan kelas. Kepala HIS di Kuningan antara
tahun 1940-1941 adalah Cellis yang kemudian digantikan oleh Eijberts
antara tahun 1941-1942. Ketika perpisahan dengan Cellis yang
diselenggarakan di Bangsal Olah Raga, Daeng memimpin anak-anak pandu
bermain angklung. Perpisahan tersebut meninggalkan kesan yang
mengharukan. Cellis dan istrinya menangis. Ternyata penggantinya adalah
seorang guru yang tidak berjiwa guru. Jika ada guru-guru lain yang
mengucapkan bahasa Belanda yang salah, maka Eijberts langsung
memarahinya tidak peduli di muka murid-murid. Begitu pula jika ada
murid-murid yang berani mendekati mobilnya, maka pasti mendapat hukuman
berdiri di depan kantornya sampai pelajaran selesai. Sementara itu
kegiatan Daeng masih seperti sebelumnya yaitu membuat dan melatih
bermain angklung.
Sebenarnya pengenalan kembali Daeng dengan terjadi di Kuningan pada
tahun 1938. Diceritakan ada seorang peminta-minta datang ke rumahnya
membawa angklung buncis. Daeng tertarik kepada suara angklung karena
teringat pada masa kecil dan sekolah di Garut. Ketika itu ia sudah
gemar memainkan angklung. Ia membeli angklung peminta-minta itu untuk
dipelajari. Kemudian ia mencari seorang yang biasa membuat angklung dan
akhirnya ia bertemu dengan seorang tua yang bernama Djaja. Daeng
belajar mencari suara dari bambu dan “menyetemnya”. Karena keuletannya,
akhirnya Daeng berhasil membuat do-re-mi dari sepotong bambu. Dengan
berbekal sepotong bambu (angklung) itu kelak Daeng berhasil
mengelilingin dunia (1938-1984). Angklung inilah yang kemudian
diperkenalkan dan dipopulerkannya di Kuningan maupun di luar Kuningan.
Angklung inilah yang kemudian disebut “angklung modern” atau disebut
pula menurut nama pembaharunya (Bapak) Daeng dengan “Angklung Padaeng”.
Sebutan terakhir ini terutama oleh para muridnya seperti Moch. Hidayat
W. Sebagai penghormatan kepada “Bapak Angklung” ini.
Pada masa pendudukan Jepang, Daeng membentuk Grup Angklung yang terdiri
dari anak-anak kelas V dan kelas VI SD Kuningan (1944). Kecuali
lagu-lagu Jepang, juga diajarkan beberapa lagu Indonesia yang sedang
populer ketika itu. Ternyata orang-orang Jepang menyukai permainan
angklung itu sehinggan grup itu sering diundang untuk memainkan
angklung pada acara-acara resmi di Kuningan maupun di Cirebon. Pernah
grup itu diminta bermain pada pembukaan Pasar Malam di Cirebon yang
dihadiri oleh para pembesar Jepang. Juga pada waktu peresmian lapangan
terbang di Beusi (Kabupaten Cirebon – Majalengka) yang dibuat oleh
Jepang.
Sesudah proklamasi kemerdekaan tahun 1945, di Kuningan berdiri sebuah
SMP Negeri. SMP ini hanya mempunyai dua kelas. Murid-muridnya campuran
lulusan SD Kuningan dan pindahan dari kota lain. Kepala Sekolahnya
adalah A. Setiamihardja. Guru-gurunya berasal dari bekas guru-guru HIS
dan pindahan dari Cirebon. Di antaranya adalah Talman (kakek istrinya
adalah Djaja yang menjadi “guru besar” Daeng dalam bidang angklung),
Sarkim, Suharta, Karwapi, Onong, Suparman, Sanusi, Muhari, Ibu Tukinun,
Ibrahim, Ardiwinata, Supria dan Daeng sendiri. Daeng pindah menjadi
guru SMP bersama-sama dengan angklungnya.
Di SMP, Daeng mengajar pelajaran menyanyi dan ilmu alam. Kemudian ia
hanya mengajar pelajaran menyanyi saja di setiap kelas. Pada awal tahun
1946 ia mendirikan grup angklung. Kebetulan ada murid-murid bersuara
merdu sehinggan angklung yang semula hanya diperagakan secara
instrumentalia kemudian dapat dipakai untuk mengiringi lagu-lagu atau
nyanyian-nyanyian. Ternyata permainan angklung itu berkembang pesat
sehingga sering kali diundang main, tidak saja di Kuningan dan Cirebon
tetapi juga sampai di Garut. Salah satu puncak permainan angklung Daeng
ialah pada waktu Persetujuan Linggarjati pada bulan November 1946.
Semua peserta konferensi kagum dengan acara itu. Pertunjukkan angklung
itu telah turut mencairkan suasana yang kaku dan tegang setelah
perundingan di Linggarjati. Kemudian setelah itu rombongan angklung
Daeng diundang main di Istana Negara Jakarta dengan dijemput oleh St.
Syahrir. Sebagai hadiah, Syahrir memberika sebuah stringbass sebagai
pengganti stringbass dari rombongan angklung Kuningan yang sudah rusak.
Beberapa waktu setelah itu Presiden Soekarno dan rombongannya
berkunjung ke Kuningan dan melihat-lihat kelas-kelas SMP Kuningan. Pada
kesempatan ini presiden mengucapkan terima kasih kepada rombongan
Angklung Daeng yang telah turut memeriahkan beberapa upacara kenegaraan.

Angklung Massal Jambore Nasional 1981, Cibubur
Sekitar awal tahun 1947 terjadi perubahan suasana politik di Kuningan.
Kuningan diduduki Belanda. Karena sekolah dijadikan markas Belanda,
masa sekolah untuk sementara ditutup. Kemudian dalam masa pendudukan
Belanda itu sekolah dibuka kembali. Daeng kembali melatih permainan
angklung dan kalau dan kalau ada acara-acara resmi , permainan angklung
selalu dipertunjukkan di Linggarjati maupun di Cirebon. Pernah
permainan angklung itu direkam pada “piringan hitam” yang teknisinya
khusus didatangkan dari Negeri Belanda. Kemudian pada waktu pelantikan
wali negara Pasundan bulan Mei 1947, rombongan angklung Daeng diminta
bermain di Bandung. Pada kesempatan bermain di Gedung Concordia, untuk
pertama kalinya dimainkan lagu ciptaan Johann Strauss “An der schönen
blauen Donau” yang amat mempesona para undangan, sehingga diminta untuk
memainkannya sekali lagi. Keesokan harinya, rombongan angklung bermain
di NIROM (sekarang jadi RRI) yang disiarkan secara langsung serta
dibuatkan rekaman pada piringan hitam. Kemudian dalam suasana politik
yang terus berubah itu, pada bulan Desember 1947 rombongan angklung
Daeng diminta untuk bermain dalam acara kesenian pada penutupan
Perundingan Renville.
Tahun 1949 Daeng pindah dari Kuningan dan antara tahun 1949-1950 ia
menjadi kepala SD di Bandung yang diperbantukan pada Jawatan Kebudayaan
Propinsi Jawa Barat. Kemudian antara tahun 1950-1951 ia diangkat
menjadi penilik sekolah, diperbantukan pada kursus-kursus di Kementrian
P dan K Jakarta. Pada waktu di Jakarta Daeng berkesempatan mengikuti
pendidikan B I Seni Suara dan lulus dengan nilai baik (1954). Sementara
mengikuti kuliah, Daeng menjadi dosen pada Balai Pendidikan Guru di
Bandung (1951-1955). Setelah tamat BI ia mendapat tugas belajar ke
Australia dalam rangka Colombo Plan.
Sambil bekerja dalam berbagai kegiatan, Daeng terus mengembangkan dan
mengajarkan permainan angklung. Di Bandung ia membentuk kelompok
angklung dengan mengambil tempat latihan di Yayasan Pusat Kebudayaan
dan dengan jadwal latihan pada sore hari dan hari Minggu. Di
sekolah-sekolahlah permainan angklung diajarkan dengan tenaga-tenaga
pengajar bekas-bekas muridnya di Kuningan dulu, seperti Moch. Hidayat
dan lain-lain. Dengan cara-cara ini permainan angklung menjadi
berkembang. Apalagi dengan adanya pesta-pesta kenegaraan, di mana
Presiden Soekarno sendiri yang memerintahkan agar Daeng dengan
rombongan musik angklungnya mengisi acara-acara kesenian, maka
kedudukan dan peranan angklung semakin mendapat tempat yang terhormat.
Pesta-pesta kenegaraan itu di antaranya ialah Colombo Plan di
Yogyakarta, malam kesenian dalam rangka hari kemerdekaan di Istana
Negara, malam kesenian untuk menghormati tamu-tamu negara asing (kepala
negara asing, perdana mentri, dan sebagainya). Juga pada pembukaan
pesta-pesta olah raga seperti PON ke-6 di Lapangan Siliwangi Bandung di
mana secara masal 1000 angklung dimainkan para pelajar dengan Daeng
sebagai dirigennya; malam kesenian “Asian Games” dan “Ganefo” dengan
300 pemain di Istora Senayan; malam kesenian pada pesta penutupan
konferensi seperti Konferensi Islam Asia-Afrika di Bandung, dan
Konferensi Wartawan Asia-Afrika di Bandung. Pada peringatan Konferensi
Asia-Afrika ke-30 bulan April 1985 permainan angklung dipertunjukkan
pula meskipun Daeng sendiri telah meninggal. Meskipun demikian Daeng
telah berhasil membina kader-kader penerusnya sehingga angklung dapat
terus dimainkan pada setiap acara-acara terhormat.