|
 |
| |
| Wednesday, 08 September 2010 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 62 guests online |
|
AWI Members |
 | 1223 registered |
 | 0 today |  | 0 this week |  | 101 this month |  | Last: ashrialiefah | |
|
AWI WebStat |
Members: 1225
News: 705
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG DAENG SOETIGNA MENDUNIA (Pikiran Rakyat, 1 Desember 2007) |
|
|
|
Written by Soni Farid Maulana
|
|
Saturday, 01 December 2007 |
|
dengarlah katak bernyanyi dalam air di kali ramai-ramai waktu sunyi menggembirakan hati kek! kek! kek! kek! kek! kek! kek! kek! kek! kek!
ENAM larik syair di atas dipetik dari lagu "Dengarlah Katak Bernyanyi" karya Daeng Soetigna, yang dikreasinya A.H. Harahap dkk. Pada pertengahan tahun 1970-an, lagu tersebut cukup populer di kalangan anak-anak. Adakalanya lagu bernada riang itu dimainkan dengan tabuhan angklung diatonis.
Lantas siapa Daeng Soetigna?
Dia adalah tokoh angklung modern dari tatar Sunda. Daeng berhasil membuat angklung diatonis yang digubahnya dari angklung pentatonis, yang tumbuh dan berkembang di parahyangan.
Jika Malaysia akhir-akhir ini mengklaim bahwa angklung diatonis yang diberi nama bamboo malay merupakan produk budaya bangsa mereka di masa lalu, pengakuan tersebut adalah pengakuan yang konyol. Apa sebab? Karena sebelum itu tak ada kabar-berita dari Malaysia bahwa Malaysia punya angklung seperti yang dikreasi oleh Daeng Soetigna. "Arogansi orang-orang Melayu itu memang sungguh keterlaluan. Mentang-mentang mereka punya uang bisa mengklaim apa saja yang mereka inginkan. Dan yang diklaim mereka nyatanya bukan hanya angklung diatonis hasil kreasi Daeng Soetigna, reog ponorogo, lagu "Rasa Sayange", dan seni batik pun diklaimnya juga," ujar Prof. Drs. A.D, Pirous, menantu Daeng Soetigna, dalam percakapannya dengan "PR" di tempat tinggalnya, Jln. Bukit Pakar Timur II - No. 111, Kabupaten Bandung, Kamis (29/11). Dibuat tahun 1938 Menurut Erna Ganarsih Pirous, salah seorang anak dari almarhum Daeng Soetigna, angklung diatonis dibuat oleh Daeng Soetigna pada tahun 1938. Pembuatan angklung tersebut diawali dengan kisah dua orang pengemis yang datang ke rumah Daeng Soetigna di Kab. Kuningan. Di hadapan Daeng, kedua pengemis tersebut memainkan angklung pentatonis. Bunyi angklung tersebut membuat hati Daeng tergetar. Daeng membeli dua buah angklung pentatonis yang menarik perhatiannya itu usai dimainkan kedua pengamen tersebut. Ketika dua buah angklung pentatonis ada di tangannya, pikiran Daeng mulai bekerja, yakni ingin membuat angklung diatonis. Persoalan timbul, secara teknis Daeng tidak bisa membuat angklung. Untuk mengatasi persoalan tersebut Daeng kemudian belajar kepada seorang pakar angklung, Djaya namanya, yang sudah berumur 80 tahunan. "Pak Djaya yang merasa heran dengan permintaan Daeng Soetigna yang ingin belajar membuat angklung," kata Erna Ganarsih Pirous lebih lanjut. Setelah Daeng menjelaskan duduk perkara yang diinginkannya, akhirnya Djaya bersedia mengajari Daeng Soetigna membuat angklung yang dibuat dari bilah-bilah tabung bambu hitam. Setelah menguasai bagaimana cara membuat angklung, akhirnya Daeng Soetigna yang mahir main piano, gitar, madolin, dan alat-alat musik lainnya produk budaya Barat itu, segera melakukan eksperimentasi. Dia membuat angklung bernada diatonis. Apa yang dilakukannya itu tidak sia-sia, membuahkan hasil yang cukup mengagumkan, yang kini diklaim sebagai produk budaya Malaysia yang disebut bamboo malay itu. Ketika Daeng Soetigna berhasil membuat angklung diatonis, ia secara tidak langsung telah menyumbangkan sebuah alat musik baru ke dunia internasional, yang dikreasinya dari bahan-bahan lokal. Dalam arus globalisasi yang kian deras itu, Daeng tidak melulu jadi konsumen musik Barat, tetapi juga jadi produsen sekaligus. Dalam konteks inilah Pemerintah Republik Indonesia c.q. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi Bintang Budaya Parama Dharma kepada Daeng Soetigna. Bintang budaya tersebut diterima Erna Ganarsih Pirous pada 6 November 2007 di Istana Negara. Lebih lanjut Erna mengatakan, ketika angklung diatonis berhasil dikreasi oleh Daeng Soetigna yang saat itu masih tinggal dan mengajar di sekolah setingkat SMP di Kuningan, permainan musik angklung diatonis untuk pertama kalinya diperkenalkan Daeng di kalangan anak-anak pramuka asuhannya. "Untuk diajarkan di sekolah saat itu masih ditentang, karena alat musik tersebut masih dianggap sebagai alat musik para pengemis. Pendeknya derajat angklung diatonis pada saat itu masih dianggap sebagai barang yang hina," papar Erna Ganasih Pirous, yang kerap menatap foto ayahnya tercinta di beberapa album tua yang ada di hadapan dirinya. Setelah angklung diatonis dikenal di kalangan pramuka sebagai alat musik yang menyenangkan, akhirnya permainan musik angklung diatonis bisa diterima dan diajarkan di sekolah. Malah setelah Daeng Soetigna pindah ke Bandung, Presiden Soekarno meminta Daeng Soetigna membuat konser angklung yang dikreasinya itu dalam acara Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955 di Gedung Merdeka, Bandung. "Sejak itulah pertunjukan angklung diatonis yang kemudian disebut Angklung Daeng Soetigna melanglang buana. Banyak sudah orang-orang Barat dan orang Timur yang datang dari Amerika. Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Korea, Malaysia, dan negara-negara lainnya yang belajar angklung kepada Daeng Soetigna. Jadi sangat janggal kalau Malaysia mengaku-ngaku Angklung Daeng Soetigna sebagai produk budaya mereka. Berkait dengan itu kami minta kepada pemerintah Indonesia untuk mengklarifikasi masalah ini kepada pemerintah Malaysia," ungkap Erna Ganarsih Pirous, yang mengaku hingga kini pihaknya belum pernah menerima royalti sepeser pun dari mereka yang kini memproduksi angklung ciptaan ayahnya itu, yang konon dijual ke Jepang, Korea, Malaysia, dan negara-negara lainnya dalam jumlah yang banyak. Dibukukan
Tentang apa dan bagaimana Daeng Soetigna agar tidak dilupakan zaman, Erna Ganarsih Pirous berkerja sama dengan sastrawan SundaTatang Sumarsono membuat buku yang diberi judul "Membela Kehormatan Angklung." Buku yang berupa biografi Daeng Soetigna ini dilengkapi pula dengan beberapa tulisan, yang dibuat oleh beberapa tokoh dan budayawan Sunda yang mengenal Daeng Soetigna dari dekat, seperti Sudjoko, Obby A.R., dan Mochtar Kusumaatmadja. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja S.H,.L.L.M., dalam sebuah esainya antara lain mengatakan, Daeng Soetigna telah mengangkat harkat derajat angklung hingga dikenal ke berbagai pelosok dunia setelah dia berhasil mengubah angklung pentatonis jadi angklung diatonis. Jasa Daeng Soetigna sudah diakui pemerintah dengan berbagai penghargaan yang diberikan kepada Daeng Soetigna. Daeng Soetigna, yang meninggal dunia pada 8 April 1984, mempunyai banyak murid. Dua di antaranya muridnya adalah Obby A.R. dan (alm.) Udjo Ngalagena. Kedua orang tersebut, cukup berjasa memperkenalkan Angklung Daeng Sutigna ke berbagai belahan dunia setelah Daeng Soetigna meninggal dunia. Hal itu diakui oleh Mochtar Kusumaatmadja, yang pernah menjabat sebagai menteri luar negeri pada zaman Orde Baru berkuasa. "Dalam konteks yang demikian angklung jadi alat yang ampuh dalam diplomasi budaya. Departemen Luar NegeriRI pernah mengirim Udjo ke Pulau Solomon untuk mengajar Angklung Daeng Sutigna di sana," tuturnya. (Soni Farid Maulana/"PR")*** Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
| |