|
 |
| |
| Tuesday, 21 May 2013 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 53 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 3722 terdaftar |
 | 1 hari ini |  | 9 minggu ini |  | 251 bulan ini |  | Terbaru: opegotrosse | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 3724
Berita: 711
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG SETARA ALAT MUSIK DUNIA (Tribun Jabar, 21 Desember 2008) |
|
|
|
Kontributor: Ricky Reynald Yulman
|
|
Sunday, 21 December 2008 |
|
Konser 100 Tahun Bapak Angklung Daeng Soetigna Oleh Ricky Reynald Yulman SEKITAR 600 penonton "Konser Peringatan 100 Tahun Bapak Angklung Daeng Soetigna: A Trail of Invention in World's Music History" berkali-kali dibuat takjub. Di Gedung Merdeka, Sabtu (20/12) malam, mereka menjadi saksi bahwa angklung benar-benar menjadi bagian musik dunia.
Komunitas pelestari angklung, seperti Keluarga Besar Bumi Siliwangi UPI, Gentra Seba STBA Bandung, SD Cikal Jakarta, Temen Awi Angklung Orchestra, dan Insperto Arumba Awi Orchestra (Insperto), memainkan komposisi dari para komposer nasional dan internasional. Konser berdurasi dua jam ini dibuka dengan lagu Indonesia Raya ciptaan WR Supratman, dipimpin Concert Master Obby AR Wiramihardja. Pakar angklung ini ialah salah seorang murid maestro pencipta angklung diatonis-kromatis, almarhum Daeng Soetigna. Kelompok penampil angklung orkestra dari berbagai lintas usia kemudian menampilkan beberapa karya komposer dalam negeri maupun lagu daerah yang cukup dikenal publik, yakni Bengawan Solo (Gesang), Sirih Kuning (NN), Es Lilin (Bi Mursih), Kopi Dangdut (Andi Hardy), dan Rinduku Padamu (Soesilo Bambang Yudhoyono). Angklung terasa benar-benar setara dengan alat musik dunia ketika para penampil memainkan komposisi komposer dunia, di antaranya Santorini (Yanni), Li Biamo Ne Lieti Calici from La Traviatta (Giuseppe Verdi), Air for G String (Johan Sebastian Bach), hingga Melody of Life (Eumatsu Nobuo). Di sela konser diluncurkan pula buku Membela Kehormatan Angklung, Sebuah Biografi dan Bunga Rampai Daeng Soetigna, yang disusun Tatang Sumarsono dan Erna Garnasih Pirous. Tatang mengaku sebatas melanjutkan cita-cita Daeng Soetigna untuk melestarikan angklung. "Sekarang sudah terbentuk kelompok komunitas pemuda pelestari angklung di 33 provinsi di Indonesia. Kami upayakan semua punya perangkat angklung. Semoga di waktu mendatang tak ada lagi negara yang berani mengaku angklung milik mereka," ujar Tatang, disambut riuh tepuk tangan. Sebelum masuk ruangan, para penonton konser bisa melihat puluhan bingkai foto yang menggambarkan perjalanan Daeng Soetigna mengenalkan angklung di berbagai event baik nasional maupun internasional. Termasuk foto beberapa anak murid yang melanjutkan kiprahnya melestarikan angklung. Menjadikan angklung makin diterima setelah almarhum membuat konsep 5M (murah, mudah, massal, mendidik, dan menyenangkan). Semasa hidup, Daeng Soetigna pernah menerima penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto (1968) dan Anugerah Bintang Budaya Parana Dharma dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (2007). (rry) |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|