|
Johor, Malaysia- Alunan keroncong dan stambul yang tergeser musik Top 40 di Republik Indonesia kini dapat dinikmati sepanjang malam hingga dini hari di Johor, Malaysia. Itulah ironi dari negeri kaya budaya Republik Indonesia. Di Indonesia, perhatian generasi muda terhadap seni asli sangat minim dan justru berkembang di negeri jiran.
Lebih dari satu dasawarsa, sejak pukul 22.00 waktu Johor, Radio Johor Best 104 milik pemerintah negara bagian khusus mengudarakan keroncong. Keroncong dan stambul Indonesia mengudara hingga pukul 02.00 tanpa boleh diselingi iklan! Tenaga ahli Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Dwiono Hermantoro, di Johor Bahru yang ditelepon menjelaskan, pemerintah setempat melalui Yayasan Warisan Johor (Johor Heritage Foundation) mendukung bertumbuhnya kelompok seni keroncong dan gamelan di seluruh distrik di Johor. "Siaran khusus keroncong dilakukan atas titah Sultan Johor. Sultan Tuanku Iskandar ibni Almarhum Sultan Ismail merupakan pencinta berat keroncong," kata Dwiono yang mantan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah. Perhatian serius diberikan Sultan Johor, antara lain, melalui lomba keroncong se-Johor tahun 2000. Dwiono menjelaskan, setidaknya ada sepuluh kelompok keroncong dan gamelan yang sudah kukuh berdiri di Johor yang didukung warga keturunan Jawa dan etnis lain. "Pertama kali gamelan Jawa masuk di Johor melalui Kerajaan Lingga abad ke-18. Selanjutnya imigran Jawa membawa pelbagai seni budaya seperti kuda kepang, wayang orang, dan terakhir yang kini berkembang pesat adalah keroncong. Banyak lagu keroncong yang sudah tidak dikenal di Indonesia kini justru dimainkan di Johor," kata Dwiono. Salah satu kelompok keroncong yang terbaik berasal dari Distrik Batu Pahat yang dilatih Eddie Guntoro asal Semarang, Jawa Tengah. Kepala Konselor Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor P Budi Prakoso yang dihubungi secara terpisah mengakui, eksistensi seni keroncong dan gamelan di negara bagian Johor sangat dominan. "Sultan Johor sangat mendukung perkembangan seni asal Indonesia. Banyak pakar kita sekarang bekerja di Johor di bidang seni dan sains seperti di UTM, yang merupakan ITB-nya Malaysia," kata Budi. Muhibah pascakonfrontasi Dwiono menerangkan, perkembangan musik Indonesia di Malaysia modern tidak terlepas dari misi budaya pasca-konfrontasi. Sejak muhibah budaya tahun 1968 yang terus berlanjut hingga kini, pelbagai seni Indonesia diadaptasi masyarakat Malaysia. "Lagu Rasa Sayange yang diributkan sejatinya diajarkan guru Indonesia yang dulu mengajar di sekolah-sekolah Malaysia. Demikian pula alat musik seperti angklung mulai dikenal di Malaysia tahun 1973 yang diserap sebagai budaya lokal," kata Dwiono. Dinamika keroncong dan gamelan Johor adalah ironi bagi Indonesia. Tengoklah sepinya Gedung Wayang Orang Barata di Jakarta dan Taman Sriwedari, Solo. Apresiasi seni di Indonesia makin minim, jangan-jangan kelak kita harus ke Johor untuk menikmati keroncong dan gamelan! |