Alat musik angklung sendiri menurut catatan
sejarah telah dimainkan sejak lama di Indonesia, khususnya di Jawa dan
Bali dengan susunan nada lima nada (pentatonis). Angklung konon dulu
dimaikan baik sebagai alat musik maupun untuk pesta rakyat. Namun
demikian, semenjak tahun 1938, Bapak Angklung Daeng Soetigna telah
menyusun kembali susunan angklung dalam nada diatonik (tujuh nada)
kromatis, sehingga sejak saat itu angklung dapat memainkan musik
naional maupun internasional. Dan dapat disesuaikan dengan selera dari
para pemain sehingga bermain angklung dapat lebih menyenangkan selain
membentuk karakter kelompok (building character) melalui: dispilin,
gotong royong dan kerjasama, seperti tertuang dalam Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 082 tahun 1968
tentang Musik Angklung sebagai alat musik pendidikan.
Perangkat Angklung
Perangkat musik angklung umumnya disebut dalam satuan unit dan set, perincian berdasarkan konvensi sebagai berikut:
satu unit unit besar (sebagai contoh) terdiri atas:
- angklung melodi kecil nomor 0 s.d. 30 sebanyak 3 set.
- angklung melodi besar nomor G s.d. f sebanyak 2 set.
- angklung akompanyemen (akord) sejumlah 12 buah.
- angklung ko-akompanyemen (akord) sejumlah 12 buah.
Cara Memainkan Angklung
Seperti pada umumnya, angklung dimainkan dengan cara digetarkan. Untuk
menghasilkan bunyi yang baik, maka ada beberapa teknik yang dapat
diterapkan sebagai berikut.
Cara Memegang Angklung
Angklung dapat dipegang dengan cara sebagai berikut (ini berlaku untuk yang normal, jika kidal maka diperlakukan sebaliknya):
- Tangan kiri bertugas memegang angklung dan tangan kanan bertugas menggetarkan angklung.
- Tangan kiri dapat memegang angklung dengan cara memegang simpul
pertemuan dua tiang angklung vertikal dan horisontal (yang berada di
tengah), sehingga angklung dipegang tepat di tengah-tengah. Hal ini
dapat dilakukan baik dengan genggaman tangan dengan telapak tangan
mengahdap ke atas atau pun ke bawah.
- Posisi angklung yang dipegang sebaiknya tegak, sejajar dengan
tubuh, dengan jarak angklung dari tubuh cukup jauh (siku tangan kiri
hampir lurus), agar angklung dapat digetarkan dengan baik dan maksimal.
- Tangan kanan selanjutnya memegang ujung tabung dasar angklung (horisontal) dan siap menggetarkan angklung.
Cara Memegang Lebih dari Satu Angklung
Untuk pemain yang memegang lebih dari satu angklung, dapat dilakukan cara memegang angklung sebagai berikut:
Angklung yang ukurannya lebih besar dipegang tangan kiri pada posisi
yang lebih dekat ke tubuh, baik dengan cara dimasukkan ke dalam lengan
(jika angklung melodi besar atau yang masuk ke dalam lengan pemain) di
posisi lengan bawah, atau dimasukkan ke dalam jari tangan kiri sehingga
angklung sisanya dapat dipegang juga oleh jari tangan kiri lainnya dan
masing-masing angklung dapat dimainkan dengan sempurna dan baik.
Cara Membunyikan Angklung
- Angklung digetarkan oleh tangan kanan, dengan getaran ke kiri dan
ke kanan, dengan posisi angklung tetap tegak (horisontal), tidak miring
agar suara angklung angklung rata dan nyaring.
- Sewaktu angklung digetarkan, sebaiknya dilakukan dengan frekuensi
getaran yang cukup sering, sehingga suara angklung lebih halus dan rata.
- Meskipun memainkan angklung bisa sambil duduk, tetapi disarankan
pemain memainkan angklung sambil berdiri agar hasil permainan lebih
baik.
- Disarankan juga pada saat memulai latihan, dapat dimulai dengan
latihan pemanasan, yaitu membunyikan angklung bersama-sama dengan
melatih nada-nada pendek dan panjang secara bersama selama tiga sampai
lima menit setiap latihan.
Beberapa Cara Memainkan Angklung
Sekurang-kurangnya terdapat dua cara yang paling umum tentang memainkan
alat musik angklung, yaitu dengan digatarkan dan dipukul (dibunyikan
putus-putus atau centok). Berikut disampaikan bberapa teknik yang dapat
dipergunakan untuk bermain angklung dengan baik.
Menggetarkan Angklung
Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada yang dimainkan.
Membunyikan Putus-putus, Dipukul (Centok)
Angklung tidak digtarkan, melainkan dipukul ujung tabung dasar
(horisontal)-nya oleh telapak tangan kanan untuk menghasilkan centok
(seperti suara pukulan). Hal ini berguna untuk memainkan nada-nada
pendek seperti tanda musik pizzicato.
Tengkep
Angklung dibunyikan dengan digetarkan secara panjang sesuai nilai nada
yang dimainkan, tetapi tidak seperti biasanya tabung kecilnya ditutup
oleh salah satu jari tangan kiri sehingga tidak berbunyi (yang berbunyi
hanya tabung yng besar saja). Hal ini dimaksudkan supaya dapat
dihasilkan nada yang lebih halus sesui keperluan musik yang akan
dimainkan (misalkan untuk tanda dinamika piano).
Nyambung
Seperti disampaikan oleh guru angklung diatonis Bapak Daeng Soetigna,
maka dianjurkan untuk membunyikan nada angklung secara nyambung. Hal
ini dilkukan dengan teknik sebagai berikut: bila ada dua nada yang
dimainkan secara berturutan, maka agar terdengar nyambung maka nada
yang dibunyikan pertama dibunyikan sedikit lebih panjang dari nilai
nadanya, sehingga saat nada kedua mulai dimainkan, nada pertama masih
berbunyi sedikit, sehingga alunan nadanya terdengar nyambung dan tidak
putus.
Dinamika (keras dan pelan)
Sesuai kebutuhan lagu, angklung dapat dimainkan pelan (piano) atas
keras (forte). Disarankan untuk kedua jenis dinamika ini sebaiknya
frekuensi getaran angklung per detik tetap sama jumlahnya, sedangkan
yang berbeda adalah jarak ayunan angklung oleh tangan kanan yang
selanjutnya akan menentukan amplituda getaran dan menyebabkan keras
atau pelannya lnada yang dimainkan.
Cara Memainkan Angklung Melodi dan Akompanyemen
Cara bermain angklung di atas ditujukan untuk angklung melodi. Selain
angklung melodi, terdapat angklung akompanyemen yang terdiri atas nada
akor. Angklung ini dimainkan sesuai akor lagu, dan dapat dimainkan
dengan dua cara, yaitu digetarkan dan ditengkep.
Untuk teknik memainkan angklung akompanyemen dengan metoda centok
(pukul), dapat dilakukan bersama dengn alat musik bass (bisa bass petik
seperti cello/biola dengan ukuran besar) atau bass pukul (dari tabung
angklung berukuran sangat besar). Teknik memainkannya mengikuti pola
ritmik lagu seperti misalnya poila waltz ( 0 X X) atau mars ( 0X 0X 0X
0X), dengan keterangan 0 untuk memainkan bass dan X untuk memainkan
angklung akompanyemen.
Sebagai catatan tambahan, umumnya angklung akompanyemen mayor terdiri
atas empat tabung dengan menyertakan nada septime (7)-nya, sehingga
jika dibutuhkn untuk memainkan akor mayor murni maka nada septimenya
sebaiknya tidak dimainkan (ditengkep) sesuai keperluan lagu.
Angklung ko-akompanyemen adalah angklung akompanymen dengan susunan
nada lebih tinggi satu oktaf. Biasanya angklung ini dimainkan
bersahutan akompanyemen atau bersamaan dengan angklung akompanyemen,
atau dimainkan secara khusus untuk jenis musik tertentu seperti
keroncong.
Only AWI Member can write comments.
Please login or register.