|
 |
| |
| Saturday, 19 May 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 87 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1815 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 3 minggu ini |  | 158 bulan ini |  | Terbaru: sansansajidan | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1817
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG DI AFRIKA SELATAN (Radio Netherland, 13 September 2002) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Budi Supardiman
|
|
Friday, 13 September 2002 |
Diplomasi Angklung Berhasil Masuk ke Afrika Selatan
Laporan: Yanti Mualim/Asbari Nurpatria Krisna
Untuk pertama kalinya angklung masuk ke Afrika Selatan dibawa oleh
isteri Konsul Jenderal R.I. di Cape Town, Abdul Nasir, pada 1999.
Setelah Felicia Lisch, guru piano anak mereka mendapat kesempatan
belajar angklung di IKIP Bandung selama 7 minggu, angklung dimainkan
oleh anak-anak sekolah di Cape Town, dan bahkan masuk dalam kurikulum
Sekolah Lanjutan Pertama di sana.
Yang Pertama
Untuk pertama kali Felicia memperkenalkan kepada murid-muridnya yang
ketika itu rata-rata berusia 13 tahun. Kini mereka sudah berusia
15 tahun.
Sebagai guru, Felicia Lisch ingin sekali mengajarkan musik dengan
peralatan yang sederhana. Lalu ia bertanya kepada Konjen Abdul Nasir,
alat musik apa yang dapat dimainkan anak-anak. Angklung, jawab Konjen.
Tentu saja Felicia terperangah, karena belum ada bayangan di
benaknya. Konjen menjanjikan isterinya akan membawa alat itu.
Barang aneh apa ini?
Pada 17 Agustus 1999, Felicia mendapat angklung itu dan selama
dua hari ia memperhatikan alat itu dari atas ke bawah, dari
samping kiri ke kanan dan sebaliknya. Dan ketik ia memainkannya,
Konjen bilang bukan begitu. Lalu Felicia menanyakan apakah
mungkin dia belajar memainkan angklung di Indonesia dan mengajarkannya
kepada anak-anak, tanya sambil bergurau.
Obsesi Mengajarkan Angklung
Setahun kemudian, tepatnya 10 Juni 2000, Felicia berangkat ke
Bandung, untuk belajar angklung di IKIP selama 7 minggu. Kembali
ke Capte Town ia telah membawa bekal, juga filsafat yang didapat dari
pencipta angklung, Daeng Sutigna. "Hidup ini tidak ada yang lebih.
Semua orang sama. Tidak ada yang lebih pintar, tidak ada yang
lebih bodoh." Filsafat inilah yang diajarkan kepada
murid-muridnya dalam memainkan musik angklung. Ia menekankan
kehamronisan dan kerja sama yang baik, saling memperhatikan satu dengan
lainnya dan saling menolong. Itulah sebabnya ia merasa bangga.
Dengan angklung ia telah mencapai hasil, anak bandel, anak yang nakal,
anak yang tidak disiplin, dapat bekerja sama memainkan lagu-lagu dengan
angklung. "Kalau satu anak saja tidak memperhatikan nada yang
dimainkannya, ia akan ketinggalan dan lagu tidak akan jadi," katanya
kepada Yanti Mualim di Cape Town. Ia sangat terobsesi untuk melatih
anak-anak ini menjadi pengajar kelak. Karena itu sering ia
menyelenggarakan lokakarya angklung.
Anak-anak Senang
Robin, Theo dan teman-temannya, senang sekali memainkan angklung ini,
lebih-lebih mendengarkan nadanya. Mereka senang, karena merekalah
yang pertama memainkan angklung di Afrika. Mereka belajar dengan
sungguh-sungguh, karena dengan bermain angklung mereka boleh
menampilkan kebolehan mereka dan tentu saja banyak negara mereka
kunjungi. Mereka dapat memainkan lagu Indonesia Raya, walaupun
"kami tidak tahu arti kata-katanya. Tapi kami mengerti musiknya,"
jawab Robin, Theo dan teman-teman lainnya. Di samping lagu INdonesia,
mereka memainkan juga lagu-lagu mereka sendiri dan lagu Barat lain.
Upaya Konsul Jenderal
Sejak adanya Konsul Jenderal di Cape Town, kebudayaan Indonesia dalam
arti yang luas mulai lebih dikenal kembali, karena di kawasan ini
banyak orang Indonesia yang dulu dibawa kemari sebagai tawanan, sebagai
budak dan sebagai pekerja. Ketika Konjen Tupuk Sutrisno menyaksikan
untuk pertama kalinya mereka menari, ia merasa heran, karena bukan
tarian Indonesia. Ia mengatakan:
Membantu Penari dan Koreografer
Maka lahirlah penari dan guru tari Indonesia di Cape Town, dan
tari Lilin, Tari Bali, Tari Sunda dan Tari Betawi pun muncul di Cape
Town dan Afrika Selatan. "Saya memperkenalkan ini dan angklung
merupakan kelanjutan usaha Konjen sesudah saya, yaitu Pak Abdul Nasir
dan Konjen terbaru adalah Ibu Moeniroh Sri Rahayu Suradi." Bahkan
sekarang Tari Saman sangat populer. Banyak anak Afrika Selatan
ikut mempelajari tari ini.
Diplomasi Kerupuk
Konjen Moeniroh mengatakan, "Kami di Cape Town memanfaatkan diplomasi
angklung, kerupuk dan makanan Indonesia lain di samping juga
tarian. Sayang," katanya, "batik yang dikenakan oleh Nelson
Mandela tidak diikuti pemakaiannya oleh rakyat, karena ada keengganan
rakyat pada pemimpin yang sangat kharismatik dan dihormati.
Batik di Afrika Selatan dirintis oleh orang-orang Belanda yang
memanfaatkan motif dan teknik perbatikan Indonesia." Agaknya
angklung akan menjalar ke mana-mana di Afrika, tinggal bagaimana usaha
KBRI dan Konsulat Jenderal di beberapa negara Afrika memanfaatkan momen
yang sudah terbentuk ini. (13/09/2002)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|