|
 |
| |
| Saturday, 19 May 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 83 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1815 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 3 minggu ini |  | 158 bulan ini |  | Terbaru: sansansajidan | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1817
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
DARI SAUNG UDJO KE PELATARAN DUNIA (Pikiran Rakyat, 24 April 2005) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Budi Supardiman
|
|
Sunday, 24 April 2005 |
PERJALANAN ANGKLUNG DAENG
ANGKLUNG didefinisikan sebagai waditra yang terbuat dari ruas-ruas
bambu yang dibunyikan dengan cara digoyang sehingga menghasilkan
nada-nada tertentu (Rosidi, 2000:51. Rusnandar, et.al., 1996:23).
Menurut mitologi Bali, kata angklung berasal dari kata angka yang
berarti nada dan kata lung yang berarti patah atau hilang. Angklung
kemudian dapat dikatakan sebagai nada atau laras yang tidak lengkap
(Soepandi dan Atmadibrata, 1977:12).
Tidak mudah menentukan sejak kapan kesenian angklung mulai ada di
Indonesia, darimana asalnya, dan siapa yang pertama menciptakannya.
Namun, apabila dilihat dari sejarah perkembangan seni pertunjukan
daerah Jawa Barat, ada kecenderungan angklung yang berkembang dewasa
ini berasal dari daerah Jawa Barat.
Dalam perkembangannya, menurut dokumen yang ditulis Iman Rahman A.K.
dari Dokumen Saung Angklung Udjo, angklung menyebar secara luas di
hampir seluruh pelosok Jawa Barat dan dipergunakan sebagai alat
kesenian yang mendukung upacara-upacara adat dan tradisi daerah-daerah
tersebut. Di daerah Banten, Baduy, Sukabumi, Cirebon, dan lain-lain,
angklung memiliki fungsi utama sebagai sarana ritual seperti upacara
ngaseuk pare (menanam benih padi), nginebkeun pare (menyimpan padi
untuk sementara), ngampihkeun pare (menyimpan padi), seren taun
(upacara tahunan), nadran (berziarah), ngunjung ka Gunung Jati (upacara
ritual ke Gunung Jati), heleran (menggiling padi), dll.
Dalam fungsi sebagai sarana ritual tersebut, angklung dimainkan untuk
menghormati Dewi Sri sebagai dewi kesuburan, agar berkenan melimpahkan
berkah kesuburan pada tanaman pertanian atau kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakan penduduk, dengan harapan, hasilnya akan dapat membawa
manfaat dan berkah bagi penduduk.
Selain berfungsi sebagai sarana ritual, angklung juga dimainkan untuk
kepentingan hiburan. Dalam fungsi ini, angklung banyak dimainkan
bersama kesenian tradisional lainnya. Dikenal kemudian angklung degung,
angklung yang mengiringi kuda lumping, angklung yang dimainkan dalam
kesenian badeng dan mengiringi kawih (nyanyian Sunda), angklung yang
mengiringi tarian, dll.
Kesenian angklung, selain dipergunakan dalam upacara-upacara kerajaan,
juga dipergunakan sebagai kesenian yang mengiringi peperangan. Dalam
peperangan-peperangan yang dilakukan Sultan Agung Banten, serangan
pasukannya selalu diiringi oleh musik perang yang dimainkan oleh
kesenian angklung. Sebagai kesenian yang mengiringi peperangaan,
angklung juga dipergunakan pasukan kerajaan Pajajaran dalam kancah
Perang Bubat (Pikiran Rakyat, 16 Mei 2002).
Pada perkembangannya kemudian, angklung menyebar tidak hanya dimainkan
di kalangan istana saja, tetapi mulai dimainkan oleh rakyat, terutama
dalam pesta-pesta rakyat dan upacara-upacara pertanian untuk
menghormati dewa-dewa dan memohon restu untuk bertani. Dari istana,
kesenian angklung berkembang pesat ke daerah-daerah Banten Selatan dan
Priangan Timur, seperti daerah Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan daerah
lainnya.
Banyak usaha-usaha untuk menempatkan kembali angklung pada derajat
kehormatannya. Usaha yang dinilai paling berhasil adalah usaha yang
dilakukan oleh Daeng Soetigna dengan melakukan modernisasi instrumen
angklung pada tahun 1938 sehingga kemudian muncul angklung berskala
tangga nada diatonis yang mampu mencapai repertoar-repertoar musik
populer.
Angklung Tradisional
Berdasarkan jenisnya angklung terbagi dua, angklung tradisional dan
angklung modern. Yang termasuk Angklung Tradisional adalah Angklung
Baduy, Angklung Buncis, Angklung Gubrag, dan Angklung Bungko. Sedangkan
Angklung Modern adalah angklung yang dikembangkan oleh Daeng Sutigna
dan sering disebut Angklung Daeng.
Angklung Baduy tidak diketahui dari mana asal-usul dan sejak kapan
jenis angklung ini mulai muncul. Pada masyarakat Baduy Jero, Angklung
Baduy dipergunakan sebagai kesenian yang mendukung upacara adat
tradisional menghormati Sang Hyang Asri atau Dewi Sri sebagai dewi
pertanian dan kesuburan. Upacara tersebut dikenal dengan nama ngaseuk
pare, yaitu upacara yang dilaksanakan saat penanaman benih padi di
ladang, dan upacara ngampihkeun pare, yaitu pada saat mengangkut padi
hasil panen ke lumbung.
Angklung Buncis dibuat pertama kali oleh Pak Bonce pada tahun 1795 di
Kampung Cipurut, Desa Baros, Arjasari, Bandung. Sedangkan Angklung
Gubrag dimainkan pada upacara seren taun, yaitu upacara besar-besaran
pada akhir tahun panen. Selain itu, Angklung Gubrag juga dimainkan pada
upacara-upacara hajatan keluarga, perhelatan hari raya, hari-hari besar
nasional, dan acara-acara lain yang menyangkut dan melibatkan orang
banyak (Soepandi dan Atmadibrata, 1977:14).
Angklung Bungko terdapat di Desa Bungko yang terletak di perbatasan
antara Cirebon dan Indramayu. Angklung Bungko yang pertama dibuat
diyakini telah berusia lebih dari 600 tahun. Walaupun begitu, Angklung
Bungko pertama masih ada, tersimpan dengan baik, walaupun sudah tidak
bernada lagi. Angklung Bungko pertama ini selalu disertakan dalam
setiap pergelaran kesenian Angklung Bungko sebagai simbol resminya
pergelaran tersebut. Kemudian dipergunakan sebagai kesenian yang
mendukung penyebaran agama Islam.
Angklung tradisional berkembang bersama dengan perkembangan seni
karawitan. Kesenian-kesenian tersebut saling mengisi dan melengkapi.
Bentuk-bentuk yang kemudian muncul dari perkembangan tersebut adalah
kesenian prakpilingkung, bangkolung, angklung degung, dsb (Dokumen
Saung Angklung Udjo, t.t.).
Usaha-usaha untuk mengembangkan kesenian angklung tradisional
dilaksanakan secara konsisten, baik oleh para tokoh angklung maupun
oleh pihak pemerintah. Salah satunya oleh Udjo Ngalagena melalui
program pelatihan kesenian angklung tradisional di sanggar seni Saung
Angklungnya, di mana setiap peserta pelatihan diharuskan mempelajari
dan menguasai dulu angklung tradisional sebelum melangkah ke pelatihan
angklung modern atau kesenian Sunda lainnya yang telah dimodifikasi.
Angklung Modern
Angklung modern adalah angklung hasil pengembangan dari angklung
tradisional yang semula sederhana dan hanya berskala tangga nada
pentatonis, menjadi angklung kompleks yang berskala tangga nada
diatonis. Angklung ini kemudian dikenal dengan nama Angklung Daeng atau
biasa disebut juga Angklung Padaeng. Karena angklung ini merupakan
hasil temuan Daeng, seorang guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) di
Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (1938) yang dinilai telah berhasil
dengan baik menempatkan kembali kedudukan angklung di tengah-tengah
masyarakat dengan melakukan modernisasi alat musik angklung.
Dilihat dari tata cara memainkan dan skala tangga nadanya, Angklung
Daeng memungkinkan menjangkau repertoar-repertoar lagu populer, tidak
saja yang terdapat dalam khasanah musik nasional, tetapi juga musik
Barat lainnya (Koesoemaatmadja, 1989:3).
Perhatian Besar
Usaha pengembangan dan pelestarian kesenian angklung yang sangat
menonjol dilakukan oleh Udjo Ngalagena melalui Saung Angklung Udjo,
salah satu lembaga kesenian yang bergerak dalam bidang industri
alat-alat musik bambu, terutama waditra angklung, pelatihan kesenian
angklung dan kesenian tradisional Sunda, dan juga berperan sebagai
objek wisata budaya yang mengangkat kesenian angklung dan kesenian
bambu lainnya dalam penyajiannya.
Perhatian pemerintah untuk mengembangkan kesenian angklung semakin
bertambah besar. Angklung kemudian dimasukkan dalam paket acara
kesenian acara jamuan tamu-tamu negara. Dalam hal ini, tercatat Bapak
Sampoerno S.H. selaku Kepala Rumah Tangga Istana yang menaruh perhatian
sangat besar terhadap perkembangan musik angklung dan Obby A.R.
Wiramihardja yang sejak tahun 1971 berperan sebagai konduktor orkestra
angklung istana (Koesoemaatmadja, 1989:5).
Pada tingkat daerah, pemerintah juga memperhatikan perkembangan
kesenian angklung. Hal itu dapat dilihat dengan ditetapkannya Saung
Angklung Udjo pimpinan Udjo Ngalagena sebagai lembaga kesenian yang
menitikberatkan kesenian angklung dalam penyajiannya, menjadi
Laboratorium Pendidikan dan Latihan Kesenian Daerah melalui Bidang
Kesenian Daerah Kantor Wilayah Departemen Kesenian dan Kebudayaan Jawa
Barat pada 1970. Saung Angklung Udjo juga kemudian ditetapkan sebagai
objek pariwisata daerah oleh Dinas Pariwisata Daerah Kotamadya Bandung
sejak 1971 (Rosidi, 2000:673, Dokumen Saung Angklung Udjo, t.t.).
Dalam rangka pengenalan angklung kepada dunia luar, pada tahun 1971,
Pemerintah Daerah Jawa Barat bekerja sama dengan Pemerintah Daerah
Jakarta mengutus Udjo Ngalagena untuk melakukan studi banding objek
wisata dan pengolahan bambu di Thailand (Rosidi, 2000:674, Ngalagena,
1997:4). Selain itu, pada 1983 melalui Departemen Luar Negeri, Menteri
Luar Negeri Mochtar Koesoemaatmadja mengirimkan Udjo Ngalagena bersama
seorang asistennya ke Kepulauan Solomon di Pasifik Selatan untuk
mengajarkan bermain angklung, cara pembuatan, serta pemeliharaannya,
hingga saat Udjo meninggalkan Kepulauan Solomon, telah ada satu orkes
kesenian angklung yang dapat memainkan kesenian angklung, membuat,
sekaligus memeliharanya dengan baik.
Selain banyak mengisi berbagai pertunjukan di dalam negeri, angklung
kini menjadi kesenian tak terpisahkan dari misi kebudayaan Indonesia di
luar negeri. Lima kegiatan terakhir yang diemban Saung Angklung Udjo
bersama dengan kesenian angklung ke luar negeri antara lain. Bersama
rombongan GSP-Guruh Soekarnoputra, Angklung Udjo mengadakan promosi
pariwisata di London (1995), mengisi acara pada peringatan HUT RI ke 50
sekaligus promosi pariwisata yang diselenggarakan di London (1995),
melatih cara memainkan Angklung di Argentina atas permintaan KBRI
Indonesia di negara tersebut (2000), mengajar Angklung di Fukuoka
Jepang, dalam misi Pariwisata bersama Garuda (2001), dan mengisi acara
Sound of Bamboo di Kinabalu, Malaysia (2002). (Eriyanti N.D./"PR")***
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|