|
 |
| |
| Wednesday, 07 January 2009 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 17 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 763 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 4 minggu ini |  | 48 bulan ini |  | Terbaru: sk8gr8 | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 764
Berita: 658
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
MENSYUKURI BERKAT DENGAN SEREN TAUN (Liputan6.com, 25 Maret 2001) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Budi Supardiman
|
|
Sunday, 25 March 2001 |
|
Liputan6.com, Cigunjur: Banyak cara menyampaikan syukur kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Masyarakat di Desa Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa
Barat, menunjukkan rasa terima kasih atas hasil bumi yang Tuhan berikan
dalam upacara Seren Taun.
 Sebelum tiba pada acara puncak, warga, tak peduli laki atau perempuan
mulai sibuk. Ada yang mempersiapkan lesung lengkap dengan hiasan.
Banyak juga yang mulai menyusun dan merangkai sesaji. Ada yang kebagian
membuat janur. Semua rela repot menyambut hajatan yang menurut almanak
Sunda Wiwitan, jatuh tepat pada hari ke-22 bulan KNA. Pada Bulan
Perayaan Agung itu, semua warga mengembalikan kebahagiaan yang
diberikan Sang Jabaning Langit, Tuhan Yang Maha Kuasa dalam upacara
syukur. Kabut musim penghujan masih lekat menyelimuti kaki Gunung Ciremai.
Namun, di tengah dinginnya selimut kabut, masyarakat tampak giat
berbenah. Sebab, acara tradisional itu melibatkan ratusan warga
ditambah undangan dan tamu dari luar daerah. Mereka ingin berterima
kasih atas berkah kesuburan pada tanah pertanian.
Kesibukan mengental di pusat desa. Sebuah tempat yang disebut Paseban
telah disiapkan di sana. Puluhan lesung berjejer siap dipakai untuk
menumbuk beras. Acara dibuka dengan tarian. Setelah itu, sesepuh desa,
Djatikusumah akan menjelaskan satu demi satu makna upacara itu.
Kemeriahan semakin lengkap ketika warga Desa Kanekes atau yang lebih
dikenal sebagai warga Badui ikut menghangatkan acara tadi. Ratusan
kilometer jarak dari desa mereka ke Cigugur bukanlah halangan. Rasa
persaudaraan antardesa lebih penting. Bahkan, mereka sengaja membawa
angklung pusaka yang tidak akan dimainkan jika tak ada acara istimewa.
Lalu, ketika iring-iringan pembawa padi sampai di Paseban, mereka pun
segera meletakkannya di lesung yang ada. Sedangkan padi-padian yang
dibawa peserta prosesi segera diterima pamong desa untuk disimpan di
lumbung setempat. Sesepuh desa pun segera memanjatkan doa pada Yang
Kuasa dan inti acara: tumbuk padi pun dimulai. Acara diawali para tokoh
masyarakat dan dilanjutkan oleh warga yang ada di Paseban.
Acara itu sarat makna. Arti kegotong-royongan, ungkapan rasa syukur,
dan yang utama makna saling mengasihi sesama. Karena anugerah Sang
Pengasih itu, kelak bakal diserahkan kepada mereka yang kekurangan.
Kegembiraan itu pun lengkap sudah ketika hidangan yang telah disiapkan
disantap bersama. Siapa pun bisa menikmatinya sepuas mereka. Rasa
syukur menyeruak kala tak seorang pun yang dihinggapi rasa lapar. Jika
ungkapan itu keluar berarti hajatan telah terselenggara tuntas. Dan
ketika hari esok kembali menjelang, ada harapan baru yang menyertai
harapan akan kesuburan pada Ibu Pertiwi. Mereka juga menggantung asa
untuk kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, ada kesempatan untuk kembali
mensyukuri nikmat yang telah diberikan.(TNA/Tim Potret)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|