|
 |
| |
| Tuesday, 06 January 2009 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
We have 23 guests online |
|
AWI Members |
 | 763 registered |
 | 0 today |  | 4 this week |  | 48 this month |  | Last: sk8gr8 | |
|
AWI WebStat |
Members: 764
News: 658
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
BERMAIN DAN BELAJAR DI SAUNG MANG UDJO (Liputan6.com, 17 April 2004) |
|
|
|
Written by Budi Supardiman
|
|
Saturday, 17 April 2004 |
Liputan6.com, Bandung: Memainkan alat musik angklung tidaklah semudah
yang dibayangkan. Perlu kepekaan rasa untuk menggoyangkan angklung agar
bisa mengeluarkan bunyi empuk dan bernada. Ingin bisa bermain angklung?
Datang saja ke Saung Mang Ujo di Padasuka, Cicaheum, Bandung, Jawa
Barat. Pengurus Saung Mang Ujo akan memberikan bimbingan, bahkan sampai
mengajari cara membuat angklung. Saat ini, padepokan menampung murid
taman kanak-kanak sampai sekolah menengah umum yang berminat
mempelajari alat musik tradisional khas Tanah Parahyangan tersebut.
Ketika didirikan sekitar 1938, almarhum Daeng Sutigna hanya berniat
melestarikan kesenian lokal. Belakangan, bunyi-bunyian yang ditimbulkan
dari angklung ternyata mampu menyedot perhatian luar biasa. Hampir
setiap hari padepokan dipadati pengunjung, dari yang hanya ingin
sekadar menikmati alunan bunyi angklung, sampai yang berminat
mendalami. Akhirnya Daeng Sutigna makin serius mengelola saungnya. Dia
membentuk kelompok angklung dengan jumlah pemain lebih banyak.
Keseriusan Daeng Sutigna berbuah hasil. Kelompok angklungnya sempat
tampil di depan para Kepala Negara pada Konferensi Asia Afika di Gedung
Merdeka Bandung pada 1955.
Kini, meski sang pendiri sudah meninggal dunia, pewarisnya yakni Mang
Ujo dan Erwin Anwar tetap bertekad meneruskan cita-cita Daeng Sutigna.
Agar mengikuti perkembangan zaman, Mang Ujo memadukan bunyi angklung
dengan alat musik lain, seperti kendang, piano, organ, atau gitar.
Bahkan Mang Ujo membuat pusat pembuatan dan pengembangan kreasi
kesenian angklung. Programnya adalah memperkenalkan angklung kepada
para siswa sekaligus menimba ilmu tentang cara membuat alat musik yang
mengambil bahan dasar bambu hitam ini.
Mang Ujo kemudian mengembangkan konsep padepokan tidak hanya sekadar
membuat angklung, tapi juga kerajinan tangan lain. Dengan mengangkat
sejumlah pegawai, Saung Mang Ujo sekarang memasarkan berbagai suvenir,
antara lain hiasan dinding atau miniatur kapal dan rumah adat.
Untuk mempopulerkan paduan seni musik dan kerajinan tangan, Mang Ujo
menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Madya Bandung atau biro
wisata setempat. Rombongan tamu lokal maupun asing akan dijamu konser
angklung, pertunjukkan tari topeng, arak-arakan sunat, dan wayang
golek. Para pemain seluruhnya, ya bocah-bocah yang tergabung dalam
kelompok kesenian Mang Ujo tadi. Respons turis dalam konser sangat
positif. Sebagian wisatawan bahkan tak segan ikut berlenggak-lenggok
mengikuti alunan musik angklung.(KEN/Inka Prawirasasra dan Effendi
Kasah)
Only AWI Member can write comments. Please login or register. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|