|
 |
| |
| Wednesday, 07 January 2009 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 13 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 763 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 4 minggu ini |  | 48 bulan ini |  | Terbaru: sk8gr8 | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 764
Berita: 658
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG, IRAMA BILAH BAMBU NAN MERDU (Liputan6.com, 3 September 2005) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Budi Supardiman
|
|
Saturday, 03 September 2005 |
|
Liputan6.com, Bandung: Begitu angklung disebut, ingatan sebagian orang
mungkin melayang ke Tanah Pasundan. Maklumlah, hampir setiap orang di
Tanah Air pernah mendengar alunan bilah bambu yang disusun sedemikian
rupa tersebut. Tepatnya, terdiri dari tabung-tabung bambu dengan
panjang dan diameter berbeda. Alat musik tradisional yang seluruhnya
terbuat dari bahan alami ciptaan Tuhan ini memang asyik didengar.
Terutama bila dimainkan secara bersama-sama layaknya sebuah orkestra.
Cara memainkan angklung pun mudah, yakni dengan digoyang atau
digetarkan sehingga menghasilkan nada tertentu.
Kendati terlihat sederhana, ternyata mencari bambu untuk angklung
tidaklah mudah. Seperti yang dilakukan Pak Wawan dan rekannya. Suatu
hari, mereka berencana mencari bambu untuk bahan membuat angklung.
Menebang bambu untuk angklung pun hanya dapat dilakukan setelah pukul
09.00 WIB hingga menjelang pukul 15.00 WIB. Syarat itu harus dipatuhi,
bila ingin memperoleh bahan yang sempurna sehingga menghasilkan
angklung berkualitas tinggi.
Bambu yang ideal untuk angklung haruslah yang kuat dan keras. Biasanya
bambu seperti itu hanya ada di dataran tinggi yang memiliki tekstur
tanah berkapur. Tanah yang berkapur dapat membuat batang-batang bambu
menjadi keras. Akan tetapi, menemukan bambu di tanah berkapur kini
sangat sulit. Apalagi di daerah Bandung, Jawa Barat, yang kondisi
tanahnya cenderung liat.
Angklung dapat dibuat dari bambu jenis apa pun. Baik itu bambu kuning,
hijau, cokelat maupun yang berwarna hitam. Bambu yang ditebang haruslah
berumur sekitar empat sampai enam tahun. Jika umurnya terlalu muda,
batang bambunya biasanya terlalu kecil dan lunak. Sedangkan bila lebih
dari enam tahun, batang bambu cenderung besar dan tebal, sehingga sulit
dibentuk menjadi angklung.
Kriteria semacam itu ternyata bukan kendala bagi Pak Wawan. Buat
memastikan bambu yang akan ditebang sudah cukup umur atau belum, dia
cukup mengetuk beberapa kali salah batang rumpun bambu pilihan. Jika
suaranya terdengar nyaring, maka batang bambu itu siap ditebang.
Cara menebang bambu untuk angklung pun tak boleh sembarangan. Batang
bambu dipotong dengan jarak dua jengkal dari akarnya. Selain untuk
menumbuhkan bakal bambu lagi, cara ini dilakukan agar mendapatkan ruas
yang sesuai untuk angklung.
Hanya, bambu yang telah ditebang tak serta-merta menjadi angklung. Ini
barulah tahap awal. Bambu dengan ketinggian rata-rata tujuh hingga
sepuluh meter itu harus dipotong dengan ukuran lebih kecil, yakni dua
atau tiga meter.
Walaupun telah dipotong, batang-batang bambu tidak dapat langsung
dibuat menjadi angklung. Batang-batang bambu itu harus melalui proses
alam terlebih dahulu hingga menjadi kuat dan tahan terhadap rayap.
Salah satu cara tradisionalnya adalah dengan mencelupkan bambu di
sungai yang mengalir atau memasukan ke air berlumpur.
Pak Wawan pun berbagi tugas dengan rekan-rekannya. Ia meminta Agus,
salah satu rekannya yang paling muda untuk membawa bambu ke sungai.
Setelah berjalan sejauh satu kilometer, Agus pun sampai di sungai.
Tanpa menunggu waktu lagi, ia langsung menenggelamkan batang-batang
bambu. Agar tak terbawa arus sungai, batang-batang bambu ditahan dengan
batu kali yang cukup besar.
Lain lagi yang dikerjakan Pak Wawan dan Udin. Dua lelaki ini membawa
batangan bambu ke tempat berbeda. Kali ini bambu dibawa ke balong,
sebuah kolam yang berisi lumpur padat. Tak berbeda dengan aliran
sungai, balong pun berfungsi untuk memperkuat dan menghilangkan rayap
di batang-batang bambu. Adapun proses perendaman berlangsung selama
satu bulan lamanya. Waktu sebulan dianggap cukup untuk menghilangkan
rayap bambu.
Setelah sebulan, Wawan dan sejumlah rekannya membawa potongan bambu itu
ke Saung Angklung Udjo, sanggar sekaligus sentra pembuatan angklung
yang didirikan almarhum Udjo Ngalagena atau Mang Udjo. Saung ini
terletak di wilayah timur Kota Bandung, tepatnya di Jalan Padasuka
Nomor 118. Mendiang Mang Udjo adalah seorang perajin sekaligus guru
angklung buat ratusan bocah di sekitar tempat tinggalnya. Di sanalah
mereka sering menggelar pentas musik angklung. Kini, pembuatan maupun
pertunjukan musik angklung diteruskan anak-anaknya.
Di beberapa sudut Saung Angklung Udjo, sangat mudah ditemukan batangan
bambu yang menjadi bahan dasar angklung. Bambu-bambu ini telah melalui
proses perendaman. Namun sebelum dapat dibentuk menjadi angklung,
batang-batang bambu harus diangin-anginkan di tempat yang teduh selama
enam bulan lamanya.
Barulah setelah itu, bambu dianggap telah kering dan memiliki suara
yang nyaring. Setelah dipilih bambu yang bagus, maka batangan bambu
siap dipotong sesuai ukuran angklung yang akan dibuat. Bagi seorang
perajin alat musik bambu, mengukur panjang sebuah angklung bukanlah
sesuatu yang sulit. Setidaknya dibutuhkan lima orang untuk mengerjakan
satu oktaf angklung. Pekerjaan paling sulit adalah menyelaraskan nada
atau menyetem batangan angklung.
Tak semua orang dapat menyetem nada angklung. Hanya orang yang ahli dan
tajam pendengarannya yang dapat menyesuaikan nada angklung menjadi nada
diatonis. Salah satu ahlinya adalah Pak Rahmat. Pria separuh baya ini
telah 30 tahun bergelut di dunia angklung. Dan, melalui keahliannya
sebuah angklung memiliki nada yang berirama. Buat mengatur nada, Pak
Rahmat dibantu dengan sebuah gending besi kuno. Tentunya, bila
pendengaran sang ahli tidak bagus, tetap saja hasil angklungnya tak
sesuai nada musik.
Dan, proses terakhir pembuatan angklung adalah memasukkannya ke dalam
rangka. Setiap rangka biasanya berisi minimal satu oktaf atau delapan
nada. Selanjutnya angklung pun siap dimainkan.
Awalnya, angklung adalah alat musik yang tidak memiliki nada suara.
Angklung kuno tidak memiliki irama dan hanya berbunyi "gubrak".
Lantaran itulah, dahulu kala, angklung yang tak memiliki nada disebut
dengan angklung gubrak. Lain halnya dengan zaman sekarang. Angklung
kini memiliki tangga nada diatonis yang berirama dan dapat dipadukan
dengan alat musik modern. Semisal dengan biola, gitar, bahkan piano.
Angklung termasuk satu di antara alat musik tradisional yang mudah
dimainkan dan tak mengenal batasan usia. Bahkan, baik orang dewasa
maupun anak-anak dapat memainkan angklung hanya dalam hitungan menit.
Seperti pada hari itu, puluhan anak mulai latihan angklung di Saung
Angklung Udjo.
Saban petang, sanggar yang berciri bangunan tradisional etnis Sunda ini
selalu menampilkan pertunjukan tradisional khas Tanah Pasundan.
Biasanya, setelah latihan angklung, anak-anak bersiap-siap mementaskan
sejumlah atraksi seni tradisional seperti tari umbul-umbul dan
khitanan. Meski bernuansa tradisional, anak-anak yang seluruhnya masih
duduk di bangku sekolah ini menyajikan pertunjukan musik angklung
secara profesional.
Hampir di setiap pementasan di Saung Angklung Udjo, alat musik bambu
itu selalu ditampilkan. Tapi seiring perkembangan zaman, penampilan
angklung pun dikolaborasikan dengan alat musik tradisional lainnya
seperti gendang, gending, bahkan gong. Perpaduan ini ternyata dapat
menghasilkan alunan suara yang meriah dan asyik didengar.
Satu di antara penampilan yang paling ditunggu-tunggu para penonton
adalah atraksi belajar angklung. Sang pengajar, tak lain adalah salah
satu putra mendiang Mang Udjo, yakni Yayan Udjo. Para penonton yang
sebagian besar adalah turis mancanegara ini sangat menikmati pelajaran
angklung dari Pak Yayan.
Boleh dibilang, tak ada cara khusus untuk bermain angklung. Pemain
biasanya hanya cukup memegang angklung di satu tangan. Sementara tangan
lainnya menggoyangkan kerangka angklung. Hasilnya, dalam waktu singkat
angklung pun mengeluarkan bunyi yang berirama. Terlebih, angklung
adalah alat musik yang lebih bagus bila dimainkan secara bersama-sama.
Semakin banyak pemainnya, maka kian bagus kualitas suara yang
dihasilkan.
Tak butuh waktu lama bagi Pak Yayan untuk melatih. Dalam waktu sekejap,
penonton pun dapat menyanyikan lagu Burung Kakak Tua. Dan, terdengarlah
suatu alunan irama nan merdu. Tak kalah merdu ketimbang alat musik
modern yang jauh lebih mahal harganya.(ANS/Lita Hariyani dan Bondan Wicaksono)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|