|
 |
| |
| Saturday, 19 May 2012 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 81 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 1815 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 3 minggu ini |  | 158 bulan ini |  | Terbaru: sansansajidan | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 1817
Berita: 710
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
KESENIAN ANGKLUNG PERLU DIHIDUPKAN LEWAT SEKOLAH (Kompas, 19 April 2004) |
|
|
|
Kontributor: Ifah Hanifah AWI
|
|
Monday, 19 April 2004 |
|
Kesenian tradidional angklung (alat musik dari bambu) yang terkenal
dari Provinsi Jawa Barat, termasuk yang hidup di Kota Bogor, bila tidak
dilakukan penyelamatan melalui berbagai upaya pendidikan kesenian sejak
dini di bangku-bangku sekolah bukan mustahil bakal dilupakan dan
malahan bisa punah.
"Karena itu dampak yang dihasilkan dari kegitan pelatihan harus timbul
seperti upaya untuk menghidupkan kembali seni Angklung yang sekarang
nyaris mengalami kepunahan," kata Walikota Bogor, Diani Boediarto di
Bogor, Senin.
"Ini merupakan aset yang perlu dihidupkan kembali pada sekolah-sekolah di Kota Bogor," tambahnya.
Penegasan itu disampaikan saat berbicara pada pembukaan pelatihan
kesenian para guru kesenian tingkat, TK, SD, SLTA dan SMU se Kota Bogor
di Aula Gedung SMK Bogor Jalan Pajajaran.
Ia mengatakan, kegiatan pelatihan kesenian bagi para guru kesenian se
Kota Bogor merupakan salah satu program kerja rutin yang dilaksanakan
oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya.
Rutininas, kata dia, memang diperlukan dalam kegiatan pelatihan,
sebagai salah satu bentuk wujud konsistensi Pemerintah Kota (Pemkot)
Bogor meningkatkan kualitas aparatur.
"Tapi, saya berharap bahwa kegiatan rutin tahunan ini jangan hanya
sekedar memenuhi yang sudah diprogramkan dalam DASK (Dokumen Anggaran
Satuan Kerja) Kantor Pariwisata Seni dan Budaya, tapi apa dampak yang
bisa dihasilkan dari pelatihan bagi para guru kesenian itu sendiri,"
katanya.
Selain itu, menurut dia, perlu pula disadari bahwa kegiatan pelatihan
selamanya diperlukan oleh para guru, sebagai bagian dari proses belajar
dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan.
"Guru yang terus belajar ibarat mata air yang akan mampu terus menerus
mengeluarkan air jernih, yang sangat diperlukan di dalam kehidupan
manusia," katanya.
Terlebih lagi, katanya, apabila dicermati bahwa saat ini dunia
pendidikan tengah mengalami berbagai penyempurnaan sebagai usaha
meningkatkan kualitas pendidikan nasional, termasuk di antaranya adalah
diberlakukannya kurikulum berbasis kompetensi di seluruh jenjang
pendidikan.
Sementara itu, Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Bogor Ny
Hj Reny Handayani menjelaskan bahwa meteri pelatihan meliputi pelatihan
tari permainan untuk tingkat TK/SD dan pelatihan musik angklung untuk
tingkat SLTP/SMU.
Sedangkan peserta kegiatan yang berlangsung sejak 19 sampai 24 April
2004 itu sebanyak 100 orang terdiri atas guru TK, SD, SLTP, dan guru
SMU masing-masing sebanyak 25 orang.(Ant/jy)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|