|
"Sudah lupakan semua segala salahku, dan bila kau tetap bisu ungkapkan
salahku, dan aku sikapmu dan aku rinduku dan aku khilafku dan aku
rindumu.... Ada apa denganmu."
Tepuk tangan dan sorak sorai memenuhi
halaman Saung Angklung Udjo Bandung, yang menjadi tempat pertunjukan
angklung modern, saat lagu Ada Apa Denganmu karya Peter Pan tersebut
dimainkan. Sorak sorai pun kembali terdengar kencang saat lagu-lagu
yang sedang trend di kalangan anak muda dinyanyikan vokalis dari Saung
Udjo. Decak kagum semakin bertambah, karena yang mengiringi lagu itu
bukan alat band biasa melainkan angklung.
Lantunan suara angklung tersebut dikolaborasikan dengan kendang dan
alat kesenian lainnya, sehingga mengeluarkan alunan melodi yang sangat
indah ditelinga dan sedap dipandang mata. Karena terlena dengan lagu,
penonton yang terdiri dari remaja dan dewasa ikut bernyanyi dan
sesekali tampil ke depan untuk menari. Acara bertema Nature dan Culture
ini memiliki nilai filosofi yang tinggi. Menurut pimpinan Saung
Angklung Udjo Ngalagena, Taufik Hidayat Udjo, nilai filosofi dari acara
ini adalah deukeut, layeut, geugeut, paheut. ''Maksudnya, jika kita
jauh maka ayo kita mendekat, setelah dekat ayo kita bersam-sama dan
bersatu dengan bantuan musik angklung,'' katanya.
Menurut
Taufik, sekarang ini sangat penting untuk memperdalam arti sinergi
ataupun persahabatan. Ditambahkannya, banyak kejadian yang harus
diambil hikmahnya. Artinya, masyarakat Indonesia harus bersatu dan
bershabat dengan banyak orang untuk meningkatkan sinergitas. Taufik
mengungkapkan, diambilnya tema itu karena pendiri Saung Angklung Udjo
yakni mang Udjo Ngalagena sangat mencintai alam, budaya, dan
pendidikan. Karena kalau ketiga unsure itu digabung akan menghasilkan
harmoni yang baik dan indah. Musik yang mengiringi lagu-lagu modern
itu, tambah Taufik, dinamakan musik angklung plus plus dan arumba plus.
Artinya musik yang disajikan lebih dari sebelumnya baik dari sisi
aransemen dengan tambahan alat lainnya.
Acara yang
dilaksanakan malam hari ini, makin meriah saat mojang-jajaka Jawa Barat
memperagakan pakaian tradisional khas Jawa Barat. Dengan penerangan
yang cukup gemerlap dan diiringi musik angklung, para mojan-jajaka ini
berjalan mengeliling penonton sambil memperlihatkan keanggunan dan
kegagahan pakaian khas Jabar itu. Acara itu makin memperkuat tema malam
itu. Dalam peragaan busana itu, Taufik menjelaskan, Saung Angklung
ingin mengangkat mojang-jajaka sunda yang betul-betul memiliki unsure
3B yaitu brand, beauty, behaviour. Hal ini membuktikan bahwa warga
Jabar sendiri memiliki ketiga unsur tersebut.
Saung Angklung,
kata Taufik, tidak akan berhenti untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Pada dasarnya, saung Angklung menginginkan bisa mewakili segala jenis
kesenian di Jabar mulai dari musik hingga ke permainannya. ''Kita ingin
menjadikan musik tradisional tidak kalah bersaing dengan musik yang
lain, seperti orkestra modern. Mudah-mudahan 2006 nanti kita bisa
mewujudkannya,'' ujarnya. Angklung dikenal sebagai musik tradisional
khas Jawa Barat. Seperti yang ditulis Iman Rahman AK dalam Dokumen
Saung Angklung Udjo, angklung menyebar secara luas di hampir seluruh
pelosok Jawa Barat dan dipergunakan sebagai alat kesenian yang
mendukung upacara-upacara adat dan tradisi daerah-daerah tersebut.
Di
daerah Banten, Baduy, Sukabumi, Cirebon, dan lain-lain, angklung
memiliki fungsi utama sebagai sarana ritual seperti upacara ngaseuk
pare (menanam benih padi), nginebkeun pare (menyimpan padi untuk
sementara), ngampihkeun pare (menyimpan padi), seren taun (upacara
tahunan), nadran (berziarah), ngunjung (upacara ritual) ke Gunung Jati,
dan heleran (menggiling padi). Terdapat berbagai fungsi pada angklung,
diantaranya sebagai sarana ritual, yakni untuk menghormati Dewi Sri
sebagai dewi kesuburan. Selain itu, berfungsi untuk menghibur seperti
angklung degung, angklung yang mengiringi kuda lumping, angklung yang
dimainkan dalam kesenian badeng dan mengiringi kawih (nyanyian Sunda),
dan angklung yang mengiringi tarian.
Angklung juga diunakan
dalam peperangan-peperangan yang dilakukan Sultan Agung Banten, pasukan
kerajaan Padjajaran dana Perang Bubat, sebagai pengiring peperangan.
Dari istana, kesenian angklung berkembang pesat ke daerah-daerah Banten
Selatan dan Priangan Timur, seperti daerah Garut, Tasikmalaya, dan
Ciamis. Berdasarkan jenisnya angklung terbagi dua, angklung tradisional
dan angklung modern. Yang termasuk tradisional adalah Angklung Baduy,
Angklung Buncis, Angklung Gubrag, dan Angklung Bungko. Sedangkan
Angklung Modern adalah angklung yang dikembangkan oleh Daeng Sutigna
dan sering disebut Angklung Daeng, yang memiliki tujuh nada
(do-re-mi-fa-so-la-si).
Kini, negara yang melirik angklung bukan
hanya Indonesia, namun juga Malaysia. Bahkan akhir-akhir ini, menurut
Taufik, Malaysia memperjuangkan untuk memperolah hak cipta atas
angklung tersebut sebagai kesenian tradisional negaranya. Taufik
menjelaskan, Malaysia saat ini sedang giat-giatnya memperdalam ilmu
angklung. Selain memperdalam ilmunya, Malaysia membeli angklung, bahan
pembuatan angklung, dan pohon bambu. Bahkan saat ini, Malaysia sudah
menanam bambu di tanah yang dinamainya Kampung Bambu.
Selain
itu, kata Taufik, sejumlah negara telah menjadikan angklung sebagai
mata pelajaran di sekolah-sekolah dasar hingga menengah. Tindakan ini
untuk memperkenalkan angklung kepada masyarakat sejak dini. Namun di
Indonesia bahkan di Jabar sendiri, kebijakan untuk memasukkan angklung
belum sejauh itu. Anak dari Mang Udjo ini mengatakan, hambatan dari
perkembangan dan mempertahankan angklung berada di masyarakat Indonesia
terutama remaja dan anak-anak. ''Hambatannya bagaimana menimbulkan rasa
cinta masyrakat terhadap kesenian angklung,'' katanya menandaskan.
Menurutnya,
langkah awal dalam mempertahankan adalah kecintaan, sehingga timbul
komitmen dan kerja keras untuk bisa melestarikan bahkan menumbuh
kembangkan seni budaya daerah. Untuk itu, kata Taufik, orang-orang
pecinta angklung tidak bolah kehilangan inovasi untuk mengembangkan
angklung. Di Saung Udjo, kata dia, inovasi terseu dilakukan. Selain
digunakan sebagai musik tradisional, angklung dikemas sebagai musik
modern namun akarnya tetap tradisional. Angklung dalam sentuhan modern,
ungkapnya, bisa mengiringi berbagai macam lagu seperti pop ataupun
dangdut.
Dikatakan Taufik, angklung juga bisa mengiringi
fashion show ataupun kegiatan lainnya. Hal ini merupakan inovasi yang
dimiliki anak negeri sendiri. Supaya bertahan, maka harus
mempertahankan inovasi dan menciptakan inovasi-inovasi yang baru dan
terbaru. Untuk menjaga inovasi ini, maka masyarakat harus belajar dan
memiliki ilmu sehingga timbul kreativitas. Karena inovasi tidak akan
muncul dengan sendirinya dan tidak bisa dipaksakan.
Tauifik
menjelaskan, yang terpenting dalam mempertahankan konsistensi angklung
adalah saung-saung angklung harus labih meningkatkan kerja sama. Saat
ini, Saung Angklung Udjo sedang meningkatkan kerja sama dengan
pemerintah daerah terutama Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar)
Jabar dan Dinas Pendidikan (Disdik) jabar. Bentuk kerja sama yang
paling utama adalah angklung harus masuk lagi ke sekolah-sekolah agar
anak-anak tahu kesenian tradisional yang dimilikinya.
Selain
itu, pemerintah harus mengadakan penataran-penataran guru angklung.
Kegiatan ini dimaksudkan supaya angklung benar-benar menyebar di
negerinya sendiri, jangan sampai kalah dengan luar negeri, yang sudah
selangkah lebih maju disbanding Indonesia dengan masuk ke
sekolah-sekolah. ''Yang namanya budaya kalau diterapkan sejak dini,
saat tua nanti akan kembali dan merindukan budayanya. Itu dasar yang
benar-benar harus dijaga. Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |