|
 |
| |
| Wednesday, 07 January 2009 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 29 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 763 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 4 minggu ini |  | 48 bulan ini |  | Terbaru: sk8gr8 | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 764
Berita: 658
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
SANGGAR MUSIK ANGKLUNG MANG UDJO TETAP LESTARI DI TENGAH GELOMBANG KRISIS (Sinar Harapan,17-4-2002) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Ifah Hanifah AWI
|
|
Wednesday, 17 April 2002 |
|
BANDUNG—Harapan lestarinya musik angklung di tatar Sunda pada umumnya
dan Bandung pada khususnya bisa jadi hanya bertumpu kepada Sanggar
Musik Angklung Mang Udjo yang terletak persis di Jln Padasuka 118
Bandung.
Sang pencetus dan pembuat sanggar yakni Mang Udjo Ngalagena sendiri
sudah wafat pada Mei 2001 lalu. Untuk melestarikan cita-cita sang
maestro angklung Bandung ini, maka sanggar ini dipimpin langsung oleh
Kang Taufik Hidayat, yakni putra pertama Mang Udjo.
Dalam percakapan
dengan SH di sanggarnya. Taufik membeberkan secara panjang lebar soal
sanggarnya yang kian hari kian berkibar dan melekat tidak saja
dikalangan wisatawan domestik namun juga wisatawan luar negeri.
”Tidak
nyombong, Mas, kendati krisis melanda Indonesia sejak 1997, saya
bersyukur sanggar ini tetap hidup. Hanya saja, kalau sebelum krisis
paling banyak wisatawan luar negeri (asing), sejak krisis dan situasi
keamanan tidak jelas kunjungan wisatawan asing agak berkurang.
Gambarannya saja, sebelum krisis bisa sampai ratusan wisman, sekarang
paling banter hanya 50 orang/hari. Sementara wisatawan dalam negeri
bisa mencapai 150–200 orang per hari,” tutur Taufik.
Di sangar Mang
Udjo ini memang tidak hanya sebatas melihat bagaimana kepiawaian para
pemusik angklung cilik-cilik memainkan angklung, melainkan juga cara
membuat alat angklung ini dari awal sampai bisa memainkannya. Justru,
di alam yang serba bambu dan penuh suasana kekeluargaan inilah yang
membuat sanggar Mang Udjo ini tetap hidup.
Misalkan, begitu
pengunjung datang, langsung disambut dengan alunan musik angklung
berbagai irama. Hanya dengan kocek Rp 35.000/orang (bagi wisatawan luar
negeri) dan Rp 5.000–Rp 10.000 (bagi wisatawan dalam negeri),
pengunjung bisa menikmati semua fasilitas yang ada. Seperti memainkan
musik anglung secara bersama-sama dipandu oleh pemusik angklung yang
masih bocah-bocah yang dikoordinir oleh Kang Taufik.
Sanggar ini
dibuka mulai pukul 16.00 setiap harinya. Siapa pun bisa menikmati asal
membeli tiket yang disediakan Kang Taufik dan krunya. Berdiri sejak
tahun 1964, Sanggar Mang Udjo awalnya hanya mempekerjakan sekitar 10
orang pembuat angklung. Kini, sekitar 50 orang pekerja ditampung di
sana. Sementara produk yang dihasilkan mencapai sekitar 100 set
angklung ukuran besar, sedang, mini dan besar dan set arumba.
Harga
jual per satu set, kata Taufik, bervariasi untuk ukuran besar bisa
sampai Rp1 – 2 juta, tapi untuk jenis arumba bisa Rp500 ribu–1 juta,
dengan bahan baku berupa bambu hitam yang setiap bulannya bisa 10 truk
bambu atau 2000 batang.
Produk sanggar seni Mang Udjo ini ternyata
sudah menembus pasar luar negeri, seperti ke Australia (satu kontainer
pada tahun 1992), ke Jerman, dan seluruh kedutaan RI di luar negeripun
sudah ada seperengkat musik angklung ini.
Di bawah atap yang
dikelilingi bangunan serba bambu inilah setiap sore, bocah-bocah kecil
setelah pulang sekolah direkrut oleh Kang Taufik untuk main angklung
dan jenis-jenis kesenian lain khas Sunda.
Suasana kebersamaan
membuat semua pengunjung bergeleng-geleng kepala sembari tersenyum
ceria. Pokoknya, kesan mendalam itu pasti ada ketika Anda menginjakkan
kaki di sanggar Mang Udjo ini. Tentu ingin singgah kembali kemari. Maka
tak salah bisa angklung dijadikan simbol kebersamaan masyarakat Sunda.
(SH/antonius sp)
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|