|
 |
| |
| Tuesday, 06 January 2009 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 20 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 763 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 4 minggu ini |  | 48 bulan ini |  | Terbaru: sk8gr8 | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 764
Berita: 658
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
MENONTON KONSER ANGKLUNG DI BANDUNG (Suara Pembaruan Daily, 18 November 2003) |
|
|
|
Ditulis Oleh: Ifah Hanifah AWI
|
|
Tuesday, 18 November 2003 |
|
ALAT musik dari bambu yang
sederhana ini ternyata dapat digunakan untuk memainkan beragam jenis
musik, mulai dari keroncong, dangdut, pop, lagu India, Jepang, dan
bahkan lagu klasik. Setidaknya jenis-jenis lagu seperti itulah yang
berhasil ditampilkan dengan baik oleh tim kesenian STBA (Sekolah Tinggi
Bahasa Asing) Yapari-ABA Bandung lewat unit kegiatan mahasiswanya,
Gentra Seba, baru-baru ini. Konser Angklung 2003, demikianlah nama
acara yang digelar pada Jumat 17 Oktober 2003, yang dimotori oleh
Gentra Seba.
Konser yang dimulai sekitar pukul 20.00 WIB tersebut diawali dengan
lagu Mars Angklung ciptaan Daeng Sutigna (alm) atau yang lebih dikenal
sebagai Bapak Angklung yang berjasa memperkenalkan perubahan angklung
ini hingga ke seluruh dunia, dari tangga nada pentatonis sehingga mampu
mengusung permainan musik dengan tangga nada diatonis.
Konser
ini dilanjutkan dengan penampilan berturut-turut dari Marcella,
penyanyi cilik yang dengan baik dapat membawakan lagu Kebunku karya Pak
Kasur dan Bintang Kejora karya AT Mahmud. Dalam penampilan yang
diiringi oleh sekitar 80 pemain
angklung, band, dan paduan suara
itu, dia mampu membawakan lagu anak-anak tersebut dengan riang dan
memberikan warna yang kontras.
Menarik pula disimak penampilan
konduktor atau dirijen Eddy Permadi dan Obby AR Wiramihardja, yang juga
Ketua MMA (Masyarakat Musik Angklung).
Alunan musik angklung lebih
mengena ke penonton yang sesudah itu langsung disuguhi lagu Jali-Jali.
Tidak hanya sampai di situ, aransemen lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang
yang asalnya merupakan lagu keroncong mampu ditampilkan dengan warna
musik jazz, ditambah dengan tarikan vokal Wawi, yang memang merdu.
Penonton
pun semakin terhanyut dengan permainan musik angklung ini, terlebih
ketika lagu dangdut ciptaan Rhoma Irama, Terajana dibawakan dengan
cukup apik oleh Susan, lengkap dengan cengkok dangdutnya dan tentu
tidak lupa alunan kendangnya.
Dua Sesi
Konser yang
terdiri dari dua sesi itu secara keseluruhan menampilkan 19 lagu. Di
antaranya empat lagu dibawakan secara instrumen, seperti dua lagu
ciptaan Johann StrauB (baca: Yohan Strauss-Red) Voices of Springs dan
Blue Danube yang dikolaborasi dengan alat musik elektronik seperti
gitar dan bas elektrik. Uniknya lagi, orkestra angklung ini tidak kalah
megahnya dengan orkestra pada umumnya dan terdengar menarik karena
unsur bunyi yang dihasilkan dari bambu. Pada konser ini juga sempat
tampil seorang violis muda, Didit, yang mengiringi permainan angklung
Gentra Seba dalam beberapa lagu.
Angklung ini makin
menunjukkan kelasnya ketika mampu mengiringi lantunan vokal Susan dan
Yusfian dalam lagu Kuch-kuch Hota hai yang sempat tenar di Indonesia
karena warna musiknya ceria. Penonton pun sempat dibuat kaget dengan
tampilnya enam pemain angklung asal Jepang yang tergabung dalam LEEO
(Littleworld Ethnic and Earth Orchestra). Mereka tampil diiringi oleh
Gentra Seba untuk memainkan lagu Sakura Subaru.
Pada malam
itu, Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan dan Kapolda Jawa Barat Irjen
(Pol) Dadang Garnida juga mendapatkan tepuk tangan meriah dari penonton
ketika didaulat naik ke atas panggung untuk bernyanyi diiringi musik
angklung. Lagu yang dinyanyikan Besame Mucho dan Love is a Many
Splendoured Thing.
Pembaruan Angklung
Penampilan
musik angklung itu tidak akan bisa terlaksana bila tidak dimulai dari
suatu pembaruan yang dilakukan oleh Daeng Sutigna (1908-1984).
Semuanya
dimulai pada tahun 1938 di Kota Kuningan. Dari pengalamannya
mendengarkan permainan angklung dari seorang pengamen, yang di kemudian
hari dijadikan bahan pemikiran bahwa angklung itu adalah wadahnya untuk
melakukan praktik kesenian.
Berangkat dari pemikiran bagaimana
mengubah citra angklung, yang tadinya hanya bernada dasar pentatonis
dan biasa dimainkan oleh warga pedesaan, diubah dan dikembangkan
menjadi laras diatonis. Pendekatan sosio kulturalnya waktu itu adalah
mengubah citra angklung yang semula hanya sebagai musik rakyat jelata
menjadi seni musik dengan cita rasa tinggi yang prestisius.
Bahkan
berdasarkan Surat Keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
tanggal 23 Agustus 1963 No. 082/1968, angklung ditetapkan sebagai alat
pendidikan musik di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Direktorat Jenderal Kebudayaan ditugaskan menjadikan angklung sebagai
alat pendidikan musik. "Keberadaan angklung ini diangkat pada tahun
1938 ketika Daeng Sutigna mengubah tangga nada angklung daripentatonis
(lima nada) menjadi diatonis kromatis.
Namun, hingga kini walau ada
SK-nya pelaksanaannya masih kurang," ujar Eddi Permadi, pelatih
kelompok paduan angklung Gentra Seba STBA Yapari.
Hal tersebut
dibenarkan oleh Ketua Masyarakat Musik Angklung (MMA) Obby AR
Wiramihardja yang juga murid Daeng Sutigna. Menurutnya, kegiatan
pengajaran angklung di sekolah tidak pernah berjalan. "Entah kenapa,
yang pasti sudah sejak 30 tahun yang lalu ada keputusannya, tapi tidak
pernah berjalan. Memang ada di daerah Jabar dan Jakarta tapi jalannya
pelan-pelan saja. Lewat konser atau pertunjukan angklung kita justru
ingin menunjukkan seperti apa angklung itu sebenarnya," katanya.
Setidaknya
usaha itu berhasil menggaet ketertarikan orang asing pada alat musik
yang bahannya terbuat dari bambu itu. Sebut saja, Atsuko Suzuki yang
tergabung dalam LEEO Japan dan sengaja datang ke Indonesia untuk
mempelajari angklung. "Saya tahu alat musik ini ketika ada penampilan
dari satu grup angklung Indonesia di Nagoya. Saya suka dengan suaranya
dan untuk memainkannya harus beramai-ramai, jadi seru," jelasnya kepada
Pembaruan.
Saung Angklung
Berbicara mengenai
perkembangan angklung, satu sanggar di Bandung yang memang
mengkhususkan diri pada alat musik yang satu ini, Saung Angklung Udjo,
namanya. Tempat ini setiap hari secara rutin menampilkan permainan
musik angklung pada pukul 15.00 WIB selama satu jam.
Acaranya
disebut 'Bamboo Afternoon Performance' yang mana di dalamnya ada
program "Play Angklung Together", sehingga selain bisa menyaksikan
pertunjukan kita juga bisa ikut berpatisipasi dengan memainkan angklung
tersebut. Kompleks yang terletak di Bandung Timur atau tepatnya di
bilangan Padasuka ini terbuka untuk umum, baik mereka yang hanya
sekadar ingin menikmati musik
angklung atau yang ingin mempelajarinya.
Pimpinan
Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat menuturkan, selain menjadi salah
satu tempat tujuan wisata edukatif di Bandung, tempatnya itu juga
menjadi salah satu tempat melestarikan musik angklung.
"Kita
juga mengajarkan cara memainkan, membuat angklung secara gratis kepada
masyarakat sekitar. Jadi yang tampil kalau ada rombongan turis atau
grup sekolah itu anak-anak sekitar sini juga, lumayan uang sakunya
untuk membantu biaya sekolah mereka," ujarnya.
Anak ke-9 dari
10 bersaudara ini menjelaskan untuk saat ini kunjungan ke saungnya
cukup meningkat, apalagi dengan semakin banyaknya sekolah yang
memasukkan jadwal kunjungan ke Saung Angklung Udjo dalam daftar
darmawisatanya ke Bandung.
"Belakangan ini yang meningkat
justru kunjungan wisatawan lokal. Yang tadinya hanya satu kali jadwal
tampil dalam satu hari sekarang bisa sampai empat atau lima kali,''
katanya.
Bahan dasar dari angklung ini masih sulit dicari.
Bahan yang biasanya digunakan adalah bambu hitam, karena kualitas
kekeringannya yang cukup baik. Bambu-bambu ini didatangkan dari
berbagai daerah di Jabar seperti Sukabumi dan pesisir utara pantai
Jabar seperti Kuningan.
Lebih lanjut, Taufik menjelaskan,
saung-nya juga memproduksi alat musik tersebut. Dalam sebulan dengan
mempekerjakan lima kelompok perajin angklung, setiap kelompok terdiri
dari enam sampai tujuh orang, mampu mengirim 10.000 angklung ke luar
negeri. Negara tujuan, Korea, Jepang, Singapura, Australia, dan
lainnya. Sedangkan para turis asal Eropa seperti Jerman, Belanda, dan
Prancis lebih senang untuk membeli angklung tersebut sebagai oleh-oleh
dari Bandung.
Harga angklung-angklung itu beragam. Menurut
Maulana, Staf bagian Promosi dan Marketing Saung Angklung Udjo,
berkisar antara Rp 8.000 sampai Rp 30.000 untuk yang dijual per satuan.
Sedangkan untuk angklung yang djual per set sehingga bisa
dimainkan oleh sekitar 40 orang harganya mulai dari Rp 25.000 untuk
yang satu oktaf sampai Rp 3 juta untuk angklung yang terdiri dari
macam-macam jenis suara, seperti melodi, bas, akor mayor, minor, dan
lainnya.
Untuk mereka yang memang ingin belajar memainkan
angklung disediakan programnya. Terdiri dari pelatihan singkat selama
tiga hari dan long term selama tiga bulan. Tarifnya berkisar antara Rp
1,5 juta sampai Rp 10 juta, termasuk biaya makan dan menginap di Saung
Angklung Udjo.
Pembaruan/Adi Marsiela
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|