Disampaikan pada SEMINAR ANGKLUNG NASIONAL diselenggarakan oleh KELUARGA PADUAN ANGKLUNG ITB Aula Barat ITB, 26 Oktober 1989
 Kalau ditanya bagaimana perkembangan musik Angklung selama puluhan tahun ini, saya tidak tahu. Sebabnya : - Selama hampir 20 tahun saya memasuki toko kaset, hanya beberapa kaset Angklung saja yang saya lihat, itupun yang itu-itu saja.
- Selama beberapa puluh tahun saya menyalakan televisi, amat jarang sekali tampak Angklung di kaca.
- Selama beberapa puluh tahun saya memasang radio, amat jarang sekali keluar suara Angklung.
- Selama beberapa puluh tahun saya membaca koran, hampir tidak pernah terbaca kupasan mengenai musik Angklung.
Karena itu, saya minta kepada panitia seminar agar
saya diberi sebuah kaset musik angklung tingkat mutakhir atau Angklung
Kini. Selanjutnya ini saya sebut AK. Saya hanya akan menulis makalah
atas dasar kaset AK ini.
Kaset telah saya terima, dan selama
diputar, tidak terjadi kejutan sedikitpun pada diri saya, “kok masih
seperti dulu-dulu saja ketika saya masih SMP …?” Orang Eropa
tahun 1989 boleh saja terkejut ketika mendengar Angklung memainkan
Donau Biru-nya Johann Strauss. Tetapi saya tidak. Soalnya belia kita 30
atau 40 tahun yang lalu juga sudah memainkan Donu Biru pada Angklung
Pak Daeng (atau AD). Caranya sama dengan yang ada di kaset Ak. Jadi AK
malah mundur …
Lain halnya dengan musik pop (yang saya
lambangkan MP saja), jenis musik yang nyatanya bukan Angklung. Nama
‘musik pop’ saja baru saya dengan 15 tahun yang lalu. Apalagi musiknya.
Minta ampun …! Sudah sama sekali lain dari yang dulu, yang membuat saya
sering kaget, meskipun tidak selalu karena kagum.
Apa sebab begitu ? Apakah belia AK dan MP berbeda? Menurut
saya tidak. Mereka sama-sama murid sekolah, sama-sama mahasiswa, bahkan
di tempat dan kota yang sama, misalnya di ITB. Tidak ada yang dusun dan
yang kota; tidak ada yang pusat dan yang daerah.
Pop dan Angklung
Yang beda bukan belianya, tapi musiknya. Musik
pop kita memiliki panutan yang unggul di dunia, yakni musik pop
Amerika, termasuk segala pemusiknya, penyanyinya, alatnya, aliran
gayanya, ilmunya, istilah-istilahnya, rekamnannya, bahkan juga
pakaiannya. Belia MP kita tinggal ‘tuturut munding’ saja, tinggal
meniru saja segala yang direkam di New York, Chicago dan California,
lantas menyiarkannya lewat TV dan semua pemancar radio kita. Alat
musiknya tinggal kita impor saja. Kita bisa pergi belajar ke Amerika
dan Australia. Sebaliknya, dewa-dewanya seperti Chick Corea dan Mick
Jagger bisa didatangkan ke Jakarta, malah secara besar-besaran,
misalnya dalam Jak Jazz. Kalau mereka datang, semua dedengkot MP kita
berkerumun di tempat panggung, yang tentu saja di Jakarta. Radio,
televisi dan pers kita membesar-besarkannya dengan luar biasa. Gemanya
kuat, jauh sebelum mereka datang, dan lama setelah mereka pergi.
Musik
Angklung? Dibandingkan dengan dunia MP kita, dunia AD dan AK boleh
dikata tidak punya apa-apa. Panutannya hingga kini ternyata cuma
seorang, yaitu … Daeng Soetigna. Alirannya cuma satu, ‘Aliran Angklung
Padaeng’. Rumusnya jadi amat sederhana : AK =AD. Alangkah bedanya
dengan perumusan MP yang kian tahun kian rumit.
MP dan AK,
dua-duanya tidak mempunyai semangat berontak yang asli. MP kita memang
seperti terus saja berontak. Tetapi ini cuma ‘berontak imporan’. Yang
berontak itu sebetulnya suhu-suhunya di Amerika.
Musik Angklung
memang mempunyai pemberontak, tetapi Cuma Pak Daeng. Yang menandingi,
apalagi mengungguli beliau tidak ada. Bagi orang kota, Angklung itu
mula-mulanya hanyalah alat kaum pengemis, alat kekere, alat nu ngaji
kokoro. Dua orang kekere pembawa dua buah Angklung memasuki halaman
rumah gedong, main ‘klang-klung-klang-klung’, dan beberapa saat
kemudian terdengar “Persaben!”
Angklung kekere inilah yang
dihadapi pak Daeng. Anda boleh bayangkan apa yang berputar di kepala
baliau sehingga muncul yang lain sama sekali, yaitu AD. Ini suatu
revolusi, bukan Cuma otak-atik kecil-kecilan. Langsung saja AD masuk
sekolah, dimainkan anak gedongan, dan naik panggung Gedung Merdeka yang
di zaman Belanda merupakan gedung paling bergengsi (namanya Societeit
Concordia), dan yang kelak menjadi ajang Asian-African Conference.
Ternyata sekarang, revolusi Daeng ini tidak pernah berlanjut. Tidak ada
berontak-berontak lagi dalam AD.
Beberapa Kekeliruan
Telah
saya singgung tadi bahwa Donau Biru AK meleset dari garapan AD, tetapi
rupanya tidak disadari AK. Mengapa sampai demikian?
Perlu kita
sadari dulu cara kaum MP belajar musik. Mereka belajar tidak dari
naskah-naskah -- sebab tidak becus membaca musik -- tetapi dari
rekaman. Artinya, mereka mendengar rekaman, dan berusaha meniru apa
yang terdengar. Rekaman ini melimpah ruah, disebarkan dengan segala
jalan, dan terbeli oleh kantong pas-pasan kaum remaja. Mereka belajar
dari teman. Mereka belajar di sekolah musik Elfa, Bubi, Sadikin Zuhra
dll, yang apda gilirannya juga belajar dari rekaman dan dari Amerika.
Cara
belajar kaum AD dan AK lain sama sekali. Mereka tidak bermula dari
rekaman. Mereka belajar dari naskah, sehingga tiap pengangklung
dituntut mampu membaca musik. Naskah ini mau tidak mau bikinan sendiri,
mau tak mau bikinan orang Indonesia, dan mau tak mau bikinan ‘orang
angklung’. Pemusik ‘luar angklung’, termasuk yang hebat-hebat, tidak
mau berurusan dengan Angklung.
Sebetulnya, Donau Biru itu dapat
dipelajari dari rekaman, sebab barang ini selalu tersedia di toko.
Seandainya jalan ini yang ditempuh, AK tidak bisa salah main. Sialnya
lagu ini tergolong ‘Klasik Barat’, dan di toko kaset tak ada belia yang
manjamah ‘klasik barat’. Musik kalsik ini tidak mendapat dukungan TVRI,
pers, radio, pemodal, petoko, pengulas musik, dan pemasang iklan. Kaum
belia tidak mempedulikannya, dan menyindirnya dengan cara macam-macam.
Musik klasik permainan orang Indonesia tidak pernah direkam oleh
pengusaha.
Jadi kenapa belia AK justru memainkan Strauss dan
Lehar dan Ivanovici? Karena mereka sangat kekurangan naskah, sehingga
terpaksa mereka memakai ‘naskah warisan’ apa saja yang ada, pop kek,
klasik barat kek, pokoknya Angklung. Seandainya mereka main musik
klasik barat karena doyan jenis musik ini, bakal lain keadaannya. Bach,
Vivaldi, Mozart, Beethoven, Schubert, Chopin dll. bakal mengangklung.
Nyatanya ini tidak terjadi.
Jadi AK belajar Strauss dari naskah
warisan AD. NAskah Ak ini kutipan dari kutipan dari kutipan. Karena
kita terkenal ceroboh dalam tulis meulis, dalam kutip mengutip pun kita
ceroboh. Dalam musik, kelupaan titik atau kelebihan satu titik saja
sudah berakibat besar. Ada angka keluapaan dicoret miring, maka
celakalah jadinya. Kutipan ini, karena berupa stensilan, atau fotokopi
stensilan, selalu mengandung titik-titik tambahan bikinan mesin stensil
yang kurang bersih. Beberapa titik bisa disangka bikinan penulis musik.
Banyak pula mesin stensil yang kurang darah. Akibatnya tulisannya
pucat, dan sebagian malah tidak terbaca. Beberapa yang pucat ini lalu
dikira-kira saja, ditajamkan dan salah! Yang salah ini tersebar, dan
disangka beres oleh pemakainya. Si pemakai ini dasarnya sudah tidak
doyan musik klasik, jadi dia tidak berusaha membandingkan naskah
angklungnya dengan rekaman ‘Strauss yang benar’.
Mengapa
Strauss AD dulu itu benar? Karena naskahnya dibuat oleh zaman ketika
musik klasik Barat masih digemari. Buktinya, RRI Bandung mempunyai
acara mingguan ‘Pilihan Pendengar Musik’ asuhan Murcono (yang kini
selalu memanggil kita lewat Radio Australia). Pada awal tahu 70-an
sebuah pemancar radio swasta di jalan Kacapiring bahkan tiap pagi
menyiarkan acara ‘Pilihan Pendengar Musik Klasik’, yang malamnya
disusul acara musik klasik sejam atau lebih. Radio Sonata secara
teratur menyiarkan musik klasik dengan bumbu obrolan Mohamad Sunjaya.
Pemancar KLCBS mulai menyiarkan banyak musik klasik, pagi dan malam.
Kini, yang malam sudah hilang, yang pagi cuma setengah jam, dan
permintaan peminatnya (yang suratnya termuat dalam majalah KLCBS) agar
acara ini ditambah, sama sekali tidak digubris.
Dalam kaset AK
terdengar juga Besame Mucho. Ini pun disusupi kesalahan. Membetulkannya
lewat rekaman lagunya ‘yang benar’ mestinya juga gampang sekali, sebab
kasetnya selamanya ada di toko. Tetapi ‘zaman gemar musik Latin’ dan
‘gemar dansa Latin’ di Indonesia sudah lama berlalu. Penganutnya kini
amat sedikit, Los Marenos dan satu dua lagi. Trio Bimbo semula melejit
justru lewat lagu-lagu Latin yang mereka nyanyikan dengan sempurnma.
Tetapi keahlian ini sudah lama mereka tinggalkan. Belia yang suka
ajojing kini buta rumba, buta samba, buta conga, buta tango. Di tahun
50-an, tiap remaja dan mahasiswa Indonesia yang suka melantai, pasti
tahu dansa-dansa Latin ini.
Jadi naskah Angklung Besame Mucho
ini saya pikir juga warisan lama. Dugaan saya, naskah aslinya betul,
artinya mengandung banyak petunjuk triol. Triol ini biasanya berupa
tiga nada seharga yang dibubuhi kalung berangka 3. kalau dulu sih,
semua juga tahu bahwa lagu ini harus ditriolkan. Tahu dari mana? Dari
sering mendengarkan lagu Trio Los Pacos dan musik Latin. Dahulu, itu
juga terbilang ‘pop’ dan ‘top’. Sekaranga, ‘bagian pop’ di toko tidak
punya kaset bikinan sono. Cara menemukannya harus ke bagian lain,
bagian yang justru tidak digubris belia masa kini.
Akibatnya AK
harus mengandalkan naskah warisan yang ada, dan kalau naskah ini betul,
masih ada masalah lain. Yaitu masalah triol tadi. Soalnya lagu pop kita
hidup tanpa triol. Jadi kita sekarang tidak paham triol. Buktinya,
sudah bertahun-tahun saya selalu kesulitan menanamkan ‘rasa triol’ ini
dalam paduan suara. Keruan saja kebanyakan paduan suara gagal
menyanyikan mis. Bumi Persada ciptaan Binsar Sitompul.
Nah,
triol-triol ini dulu mungkin ada dalam naskah asli Besame Mucho. Tetapi
karena selalu merupakan batu sandung bagi AK, lantas diubah saja. Tiga
nada triol tadi manjadi tidak seharga lagi. Dan lagunya tentu menjadi
kurang lucu. Pasalnya, tegangan lagu justru disebabkan oleh
‘pertandingan’ antara triol dan rentak.
Yang tidak berubahAD=AK. Perubahan tidak ada. - Alat, pokoknya tetap Angklung, dan alat bantunya tetap seperti dulu.
- Cara
membunyikan Angklung ada dua : 1) kebanyakan secara getar yang tertentu
lamanya, tetapi tidak tertentu jumlah getarnya; 2) terkadang dengan
sekali sentak.
- Tempo tetap tidak bisa meningkat cepat sekali : allegro, presto, prestissimo.
- Rangkai nada yang cepat bersusulan tidak dapat ditangani.
- Lebur
nada tetap tidak dapat diatasi : artinya, titik temu nada satu dan nada
berikutnya hampir selalu menjadi titik lebur, padahal seharusnya titik
pisah.
- Gema Angklung tetap ceper, tidak dalam.
Semua ini harus diatasi agar kemungkinan Angklung mekar. Cara mengatasiAlat
– Pak Daeng telah menggabung Angklung dengan ABA, alias alat-alat bukan
Angklung. Artinya pak Daeng tidak berasas ‘angklung murni’. ABA ini
perlu ditambah, sehingga tidak perlu Angklung tetap berkuasa. Batasnya
cuma ini : jangan menenggelamkan Angklung. Cara – getaran harus dipastikan jumlahnya di sana-sini. Untuk ini perlu dibuat lambang-lambang atau tanda-tanda khusus. Bunyi terpendek : s, atau sekali sentak. Getar terpendek : 2s, atau dua sentak, sentak pertama ke depan. Kalau sentak pertama ke arah dada, lambangnya 2s-. Getar berikutnya : 3s 3s- 4s 4s- 5s 5s- dst. Getar sebanyak-banyaknya : ss Tempo getar, bila perlu, bisa ditandai gc (getar cepat), gb (getar biasa), dan gl (getar lambat). Tempo – dengan bunyi-bunyi pendek, tempo bisa mencepat. Rangkai
nada yang cepat bersusulan harus ditangani alat lain : waditra pukul,
WP, macam gamelan, tetapi diatonic, dan dari bamboo. Sediakan sejumlah
WP. Lebur nada dapat diatasi dengan penetapan jumlah getar, atau dengan penggunaan sejumlah WP. Gema diperdalam dengan penggunaan sejumlah WP diatonik yang terbuat dari bambu-bambu besar. Semua
ini hendaknya dikerjakan dengan semangat berontak Daeng. Kalau semua
itu teraksana, maka Angklung tidak akan takut mengangani lagu apapun.
Silakan mainkan Donau Biru secara lengkap, tidak lagi terpasung. Akan
lahirlah AB, Angklung Baru. Yang pantas dijaga- Sajian musik klasik barat yang ditanamkan pak Daeng hendaknya dipelihara. Terus ditambah naskahnya.
- Sajian musik dunia abadi bukan – Amerika, macam Besame Mucho, hendaknya diperkaya. Selain musik Latin, masih banyak lagi.
Yang
dua ini saja sudah akan mampu membentuk ‘kepribadian’ musik Angklung,
sebab dunia pop sama sekali tidak menanganinya. Kalau Angklung
ikut-ikutan arus pop, kepribadian ini akan hilang, dan mungkin justru
akan ‘kalah’ terus dan ‘dikasihani’ terus. Banyak naskah yang sudah
susah payah dibuat bakal cepat usang dan tidak laku di kalangan
pengangklung sendiri. Keusangan tidak ada pada musik abadi. - Usahakan bagaimana naskah musik bisa terus diperbanyak.
Sekian dan terima kasih atas perhatian anda. Bandung, Rabu, 25 Oktober 1989
|
Selamat jalan Dr. Sudjoko Ditulis oleh adminawi pada 2006-08-26 03:51:31 AWI Fellows menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya penulis artikel ini Dr. Sudjoko yang diketahui meninggal pada tanggal 25 Agustus 2006. Penulis dikenal sebagai seniman dan budayawan yang kritis dan membangun sampai akhir hayatnya. Khusus dalam musik angklung, selain sebagai penulis dan pembicara seminar yang memberi masukan kritis, juga termasuk salah satu pendiri Keluarga Paduan Angklung (KPA) ITB sebagai pecahan dari PSM (Paduan Suara Mahasiswa) ITB pada awal tahun 70-an. Selamat jalan kami sampaikan kepada Dr. Sudjoko, semoga diterima di sisi Tuhan YME dalam damai, dan semoga juga spirit yang diemban beliau dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Amien. | salut buat web ini!!! Ditulis oleh jip pada 2006-04-03 22:54:39 Poool lah pokonya untuk web ini,meskipun saya anak muda tapi bukan berarti saya tidak cinta budaya sendiri.....saya setuju dengan artikel di web ini yang menyebutkan bahwa jarang sekali acara di media elektronik yang menayangkan acara angklung...padahal orang luar begitu bangganya bisa menyaksikan pagelaran angklung,sedangkan kita yang punya???? pokonya ga ada alasan kalo menekuni angklung atau terjun di dunia angklung itu ketinggalan jaman atau trendnya disebut 'ga gaul...justru kita selangkah lebih maju jika kita menekuni bidang yang satu ini...kerasa ko sama saya sendiri...minimal bisa baca partitur...saya berani bertaruh sebagian besar grup musik anak muda di Indonesia ini masih buta akan partitur..apalagi baca not balok....(daek kituh disebut ngan pemusik tuturut munding???) dan dengan angklung setidaknya kita melindungi salah satu harta bumi pertiwi in(cyeee!!! ) satu lagi....saran untuk para petinggi negara ini, pers, media elektronik....rek iraha atuh meng-explos-an budaya sorangan...rek tepi direbut ku bangsa batur wae????? |
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |