|
 |
| |
| Tuesday, 06 January 2009 |
Mail to AWI: service@angklung-web-institute.com |
|
|
Who's Online |
|
Ada 39 Tamu Online |
|
AWI Members |
 | 763 terdaftar |
 | 0 hari ini |  | 4 minggu ini |  | 48 bulan ini |  | Terbaru: sk8gr8 | |
|
AWI WebStat |
Anggota: 764
Berita: 658
WebLinks: 7
|
|
|
|
|
ANGKLUNG PADAENG |
|
|
|
Ditulis Oleh: DJOKO NUGROHO - BULETIN RESONATOR KPA SMUN3 BDG
|
|
Sunday, 21 August 2005 |
 Sekitar tahun 1935 seorang Music Supervisor
di Pasadena California Music School, Lilian Mohr Fox, membuat suatu
auto-harp hasil modifikasi alat musik Tradisional Jerman. Alat musik
ini cepat digemari terutama oleh anak-anak karena sangat mudah
dimainkan. Kejadian ini seiring dengan diperkenalkannya angklung
diatonis oleh Daeng Sutigna di Indonesia tahun 1937. Bapak Daeng
Sutigna ini (lebih suka disebut Padaeng) merintis modernisasi
angklung atas dasar pengalamannya sebagai guru di Kuningan. Beliau
memikirkan suatu alat musik yang cocok untuk anak-anak didiknya.
Saat itu Padaeng merasa iba melihat angklung yang
tadinya alat musik 'mulia' kini kian dilupakan orang. Angklung malah
digunakan oleh para barangmaen (pengemis), sehingga siapa saja yang
membawa angklung dicemooh sebagai tukang ngamen.
Usaha mempopulerkan angklung ternyata mendapat hambatan karena sulitnya memperoleh angklung. Angklung telah punah!
Untunglah Padaeng berhasil menjumpai Aki Jaya, pembuat angklung yang
telah jompo. Berkat bujukan Padaeng, Aki Jaya bersedia mengajarkan
cara-cara mebuat angklung.
Angklung yang dibuat Padaeng ternyata lain dari biasanya. Tidak lagi
dalam laras salendro atau pelog, tetapi telah bertangganada diantonis.
Disamping itu, Padaeng berhadap anak-anak akan lebih menyukainya.
Harapan Padaeng menjadi kenyataan. Anak asuhnya yang terdiri atas para
Pandu sangat menggemari dan cukup 'fanatik' terhadap musik bambu ini.
Meskipun pada awalnya latihan secara sembunyi-sembunyi dan tidak ada
maksud dipentaskan, tak urung terdengar juga adanya angklung modern
ini. Suara pro dabn kontra bermunculan. Namun didasari keyakinan bahwa
angklung sarat dengan unsur pendidikan, Padaeng terus melatihkannya
pada anak-anak didiknya.
Angklung Padaeng makin menarik perhatian, bahkan sempat ditampilkan
dalam suatu acara di Komperensi Linggarjati dan seterusnya sering
tampil dalam acara kenegaraan.
Tahun 1961 misalnya dalam pembukaan PON V, diselenggarakan angklung
massal dengan seribu pemain. Angklung massal lainnya yang masih
segar dalam ingatakan kita Peringatan HUT Konferensi Asia Afrika (KAA)
ke-25 1980 di Bandung, Jambore Nasional 1981 di Cibubur, Haepenas 1984
di Senayan. Khusus untuk Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA),
angklung massal kembali dimainkan pada HUT ke-30 tahun 1985 dan ke-40
1995.
Perkembangan angklung ternyta tidak hanya di Indonesia. University of
Missouri misalnya telah memiliki angklung yang dibuat Padaeng 1968.
Bahkan Ayip Rosidi dalam sebuah harian pernah menyebut bahwa di Austria
angklung tengah dipelajari untuk semacam musik klasik.
Akankah kita sebagai pemilik kesenian ini, tertinggal dalam pengetahuannya?
Hanya pengguna yang terdaftar yang boleh menulis komentar. Silahkan login atau daftar. Powered by AkoComment 2.0! |
|
|
|
|
|
| AWI: Angklung Web Institute © 2007
center of knowledge and competence of angklung
service@angklung-web-institute.com
|
|
|